Skip to main content

Bahagia melihat orang lain bahagia


Saya ingat sekali ketika hari-hari terakhir ibu saya, sebelum beliau meninggal karena kanker payudara. Saya yang sudah berusia 17 tahun tidak mengetahui sama sekali kalau ibu saya menderita kanker. Dalam pikiran saya ibu adalah orang yang kuat, dan penuh semangat, sakit apapun beliau pasti sembuh. Suatu sore sepulang saya dari sekolah SMA saya berkunjung ke kamar ibu saya di rumah sakit. Ketika masuk kedalam kamar rumah sakit, terlihat beberapa keluarga menunggu dan ayah saya. saya sama sekali tidak memikirkan perasaan ayah dan beberapa keluarga yang menunggu. Bagi mereka, tentu hari itu merupakan hari yang sangat menyedihkan.

Ayah saya seorang dokter yang mendalami penelitian kanker, wajar beliau sangat mengetahui apa yang akan terjadi beberapa hari lagi. Bertolak belakang dengan saya, saya anak SMA yang masih belum memiliki tujuan yang jelas, dan hanya ingin bersenang-senang ditambah berpikiran ibu saya adalah orang yang penuh semangat dan kuat jadi beliau pasti akan pulang dan sembuh seperti biasa. Hal itulah yang membuat diriku berencana hanya beberapa menit di rumah sakit, pokoknya saya harus segera pulang.

Saat itu kesadaran ibu saya sudah sangat menurun. Beliau hanya merespon kami dengan membuka mata, menganggukan, atau menggerakan sedikit tanganya. Ketika saya duduk di samping beliau saya memegang dan memijat tangannya. Ibu saya selalu suka dengan pijatan saya, karenanyalah hal ini yang terpikir bisa saya lakukan saat itu. Saya sempat melirik makanan di meja tepat di sebelah tempat tidur ibu. Lirikan saya dilihat oleh ayah saya dan bibi saya (yang saat itu berada di sebelah saya). mereka berdua menyarankan saya agar makan karena saya pasti lapar setelah pulang sekolah. Tentunya saya malu untuk mengatakan “iya” walaupun saya memang lapar.

Ayah saya mendekati saya dan memberi penjelasan kalau ibu sementara tidak bisa memakan makanan rumah sakit. Saya tidak berpikir sedikitpun kalau kankernya telah menyebar ke hati. Yang saya pikirkan adalah “ibu saya terkenal suka makanan rumah”. Saya pikir kakak saya akan datang untuk membawakan makanan yang dia masak di rumah untuk ibu, dan saya lebih baik makan makanan dari rumah sakit ini supaya tidak mubazir. Langsung saja saya mengambil piring penuh makanan sehat itu dan memakanya.
Saya selesai makan. Ayah saya kemudian mendekati diri saya, “sini dik” kata beliau memanggil saya untuk berdiri mendekatinya (saya anak paling kecil dalam keluarga sehingga dipanggil adik). Ketika saya mendekatinya kemudian dia memeluk saya. Ayah saya mulai meneteskan air mata dan berbisik kepada saya “kasihan adik, mama agak keras sakit nya dik”. Seketika saya membalas pelukan ayah saya dengan erat. Dalm pikiran saya, saya bingung sekali. Sebenarnya apa penyakit yang diderita oleh ibu saya?
Saya kembali memegang tangan ibu saya, dan memijatnya seperti biasa. Saya menatap wajah ibu saya yang sedang tertidur. Pikiran saya masih dipenuhi pertanyaan seputar apa penyakit yang diderita ibu saya? Tiba-tba terdengar suara ketukan pintu dan seorang perempuan masuk. Dia adalah kakak perempuan saya yang paling besar.

Kakak perempuan saya menghampiri saya dan meletakan tanganya di bahu saya, sedangkan tanganya satu lagi megang kaki ibu. melihat wajah kakak perempuan saya, saya selalu ingat akan percakapan kami di mobil, kira-kira 3 bulan yang lalu. Saat itu ia berkata kalau sangat sedih dengan posisi saya. Sambil mengusap-ngusap tangan saya, dia berkata “adik sudah tau kan mama sakit?” seketika saya menjawab “iya, tau.” Namun seketika juga saya sesungguhnya bertanya-tanya sejak saat itu di dalam pikiran saya, sebenarnya apa sakit yang diderita ibu saya?

Kakak kemudian bertanya kepada saya “adik kok masih pakai baju sekolah? Baru pulang sekolah kesini?” belum sempat menjawab kakak saya menambahkan “pulang aja sekarang dik, di rumah kosong, supaya adik juga dapat istirahat, sekarang kakak yang nemenin mama, besok kan adik sekolah pagi?” kemudian ayah saya juga menimpali pernyataan kakak saya “iya dik, pulang saja. Tak apa kok.” Saya sebenarnya memang ingin pulang sesuai dengan rencana saya tadi, namun pelukan ayah tadi membuat saya ingin berada di ruangan itu beberapa waktu. Belum sempat saya berkata, kakak saya melanjutkan pernyataanya “adik  pulang aja sekarang, minta ijin dulu sama mama” kebetulan saat itu ibu saya membuka matanya. Beliau ingin memperbaiki posisi tidurnya.

Saya bingung saat itu, namun entah kenapa kepala saya mendekati telinga ibu saya, dan saya meminta ijin apakah boleh saya pulang. Ibu saya membuka sedikit matanya, kemudian mengangguk seakan berkata “silahkan dik, cepet istirahat sampai di rumah.” seketika saya berpamitan kepada ayah saya, kakak, dan beberapa kerabat yang ada di sana.

Saya pulang. Saya mengendarai motor saya menuju jalan pulang. Di perjalanan pulang saya hanya memikirkan aktifitas saya di rumah. Saya memikirkan bagaimana film ulangtahun sekolah yang harus saya selesaikan. Dan saya berterimakasih kepada ibu saya yang mengijinkan saya pulang sehingga saya bisa menyelesaikan script film sekolah tersebut tepat waktu. Satu pikiran lagi yang sangat klasik. Ibu saya akan sebuh dan sebentar lagi akan pulang seperti biasanya.

Kenyataanya, 2 hari setelah kejadian itu ibu saya meninggal. 2 tahun kejadian ini sudah berlalu, namun saya masih menyesali waktu terakhir untuk ibu saya malah saya gunakan untuk hal lain. Saya selalu bertanya-tanya, mengapa ibu saya mengijinkan saya pulang saat itu. 2 tahun sejak kejadian ini berlalu, saya baru menyadarinya. Ada sebuah hikmah yang sangat berarti bagi saya. Ibu saya ingin melihat saya bahagia saat itu. Ibu saya ingin saya pulang untuk menyelesaikan pekerjaan saya, sehingga saya bahagia karena beban saya berkurang. Ibu saya tidak ingin melihat saya sedih di kamar rumah sakit itu sambil menatap wajahnya. Ibu saya sangat bahagia apabila diri saya bahagia.

Sejak saat itu, “bahagia melihat orang lain bahagia” menjadi perinsip saya dalam menjalani hidup. Sempat terpikir oleh diri saya, bagaimana bila saya sedih agar dapat melihat orang lain bahagia? Seketika tuhan memberikan jawaban melalui hati nurani saya (sayamenganggap dari tuhan karena memang terlintas begitu saja dalam benak saya). “lebih baik saya yang sedih daripada orang lain, karena apabila orang lain sedih karena saya, saya tentu juga akan sedih karenanya. Lebih baik satu orang yang sedih daripada dua orang. Lagipula kesedihan dapat dialihkan untuk sebuah hal yang positif seperti dengan saya menulis cerita ini. jadi, tetaplah berbahagia untuk melihat orang lain bahagia. Kebahagiaan sulit untuk dicari, namun mudah untuk diciptakan.

Terimakasih telah membaca tulisan saya, semoga dapat menginspirasi diri anda.

Comments

Popular posts from this blog

Mulai menulis - terimakasih untuk orangtua saya, karena hari ini saya sudah 20 tahun bersama kasih sayang kalian

Tanggal 12 maret 2013 kemarin adalah hari ulang tahun saya yang ke 20 tahun. Sebuah hari yang sangat spesial bagi saya, karena kebetulan bertepatan dengan hari raya nyepi. Sebuah hari raya yang sangat saya sukai. Sebuah hari kelahiran yang sangat saya syukuri.
Saya menyukai hari raya nyepi karena ini satu-satunya hari raya yang tidak di rayakan. Tidak membuang energi untuk melakukan sesuatu hal, hanya cukup berdiam diri di dalam rumah. Tanpa lampu, tanpa beraktifitas, tanpa berinteraksi dengan tetangga, tanpa keluar rumah, dan tanpa menggunakan gadget (meskipun saya menggunakan untuk berterimakasih membalas ucapan selamat ulang tahun teman dan saudara saya). lalu apa yang kita lakukan dong? Hanya diam meng-sepi-kan lingkungan sesuai nama harinya, nyepi. Hal yang saya sukai dengan hari raya nyepi karena di hari ini kita dapat berterimakasih dengan tubuh kita yang sudah bekerja dengan penuh perjuangan selama 1 tahun dengan mengistirahatkan tubuh selama 1 hari penuh (hari raya nyepi dil…

#BukaInspirasi untuk 90 Hari Pertama UKM Anda

Keputusan yang Anda buat di awal bisnis (Usaha Kecil Menengah/UKM) berdampak pada laba dan rugi, bahagia dan sakit hati, kesuskesan dan kegagalan. Dalam artikel kali ini, saya merangkum apa yang Anda butuhkan untuk memulai dengan benar, termasuk rencana untuk 90 hari pertama memulai bisnis. Ada pula saran dari pengalaman nyata beberapa rekan pengusaha sukses yang saya kenal. Dilengkapi pula dengan checklist tindakan untuk menghemat uang Anda dimasa depan, dan jawaban atas rahasia keberhasilan dari sebuah bisnis. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang Anda buat setelah membaca artikel ini. Mimpimu telah berakhir. Memulai bisnis dimulai hari ini September, artinya mendekati tahun 2019. Anda pasti telah lama membayangkan produk ciptaan Anda terjual di supermarket dan mencoba menjelaskan pada pemilik supermarket mengenai keunggulan kompetitif dari produk tersebut. Anggaplah tahun ini anda bertekad meluncurkan bisnis tersebut. Pasti anda mulai bingung harus mulainya dari mana bukan? Beriku…

Terapi Khusus dari ASUS

“ini dokter, saya sering sekali merasakan perih pada mata setelah main laptop” keluhan seorang pasien pagi ini, dengan matanya yang merah dan berair. Bekerja di puskesmas di Bali membuat saya kerap kali putar otak untuk mengobati keluhan di atas. Kami menyebutnya penyakit millennial. Penyakit akibat kemajuan teknologi ini semakin banyak terjadi, mulai dari keluhan pada mata, nyeri leher, hingga kekakuan pada jari. Kebetulan sebagian besar usia pasien dengan penyakit ini adalah kaum muda atau millennial yang telah akrab dengan teknologi sedari lahir. Namun sesungguhnya teknologi dapat memberi manfaat seperti yang saya lakukan dengan Laptop ASUS WX232D saya.
Kami menyebutnya sebagai Terapi ASUS. Nama ini terlahir dari laptop ASUS yang mempermudah terapi edukasi pada pasien tanpa batasan usia. Pada pasien tua ini menjadi daya tarik karena penyakit dapat dijelaskan lewat gambar dan animasi. Semakin menarik pada pasien anak-anak karena daya ingin tau yang membuat mereka betah menonton penjel…