Skip to main content

Seseorang salah di mata anda? Segera tegur demi kebaikanya, jangan malah membicarakannya di “belakang”


Tanggal 8 april 2013, saya sedang menelpon di ruang tata usaha dalam kampus saya. ketika itu ruang tata usaha sedang sepi. Jam 12 siang, jam para pegawai istirahat. Hanya terdapat dua orang yang duduk di meja staf, sekitar 5 meter dari tempat saya menelpon. Saya menelpon untuk keperluan badan eksekutif mahasiswa (BEM) yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya saat itu. 10 menit berlalu saya menggunakan telpon, saya bergegas keluar ruang tata usaha tersebut.

Bergegas, tentu ada sesuatu yang harus saya laksanakan segera. Ya, masih berhubungan dengan keperluan BEM tersebut tentunya.

Jam 1 siang saya kembali ke kampus, dengan senyum dan gembira karena salah satu pekerjaan saya di hari ini selesai. Saya ingin melanjutkan kegiatan perkuliahan saya yang sempat saya tinggalkan untuk membereskan pekerjaan BEM ini. Saya menghubungi dosen yang sempat saya mintai ijin permisi sebelumnya. Dosen saya memberitahu saya untuk segera bertemu denganya di ruang tata usaha untuk memberikan tugas dan informasi yang sempat saya tinggalkan. Sesampai saya di ruang tata usaha, dosen saya telah menunggu, beliau menatap saya dengan tatapan yang seakan berbicara “hei di! Sini kamu!” sambil mengangkat sebuah kertas yang mengisyaratkan sebuah tugas yang harus saya selesaikan. Ibu dosen saya tersebut merupakan dosen yang ramah, namun ketika itu beliau sedang sibuk, jadi wajar saya mendapatkan perlakuan demikian. 15 menit kemudian saya telah menyelesaikan tugas tersebut dan memberikan kepada Ibu dosen. Saya segera meminta ijin untuk pulang, tentunya diselingi dahulu dengan sedikit basa-basi mengenai informasi perkuliahan yang saya tinggalkan.

Ketika saya menuju keluar, saya mendapat SMS yang mengharuskan saya kembali menggunakan telpon untuk menyelesaikan pekerjaan BEM. Karena saya masih di ruang tata usaha, saya langsung saja menuju telpon di ruangan tersebut dan menggunakanya. Nomor yang saya hubungi ternyata masih sibuk. Saya masih duduk di depan telepon, sedang menunggu untuk menghubungi nomor tersebut kembali. Ketika saya menelpon ternyata masih juga sibuk. Karena kebetulan saya haus jadi saya putuskan menunggu di luar sambil minum di dapur kampus.

5 menit kemudian saya kembali ke ruang tata usaha. Entah apa percakapan yang terjadi sebelumnya, suasana para pegawai di tata usaha terasa ada yang janggal. Saya hanya terfokus terhadap telepon untuk menyelesaikan pekerjaan BEM tersebut. Ketika saya mengangkat gagang telepon, seorang dosen saya memanggil nama saya. Beliau berjalan dari kumpulan para staf tata usaha yang saya rasakan melakukan diskusi yang janggal. Beliau jalan mendekati saya, sekitar setengah meter dari saya, baru beliau mulai berkata kepada saya. Beliau menegur saya, karena saya melakukan kesalahan.

“Adi, saya tau adi sedang ada urusan yang penting sehingga menggunakan telepon, tetapi ini telepon di ruang tata usaha lo di, coba minta ijin dulu sama pegawai tata usahanya” beliau memang sangat pintar dalam menegur, bisa-bisanya membuat saya sadar tanpa membuat saya marah.

Beliau menambahkan dengan berbisik “ini pesan dari pegawai tata usaha, bukan dari saya lo Di”
 segera saya membalas dengan lantang.

“sip dokter (dosen saya seorang dokter), saya minta ijin dahulu!”

Saya segera meminta ijin, dan ternyata respon staf tata usaha yang saya mintai ijin sangat welcome. Beliau tersenyum dan berkata dengan lantang, “silahkan dik.”

Saya merasa sangat lega dengan jawaban tersebut. Syukur sekali kesalahan saya dapat dimaklumi oleh staf tata usaha. Saya sendiri berpikir kalau saya punya ruangan, kemudian tiba-tiba ada seseorang yang datang ke ruangan saya untuk menggunakan telepon tanpa meminta ijin. Tentu saya akan spontan jengkel terhadap orang tersebut, tidak peduli bagaimana pentingnya seseorang tersebut sehingga harus menggunakan telepon.
Ketika saya ingin segera menggunakan telepon, tak sengaja saya mendengar percakapan para pegawai tata usaha.

Seorang pegawai berkata “heran deh sama mahasiswa sekarang, kok para ngga sopan ya?”
Perkataan ini ditanggapi oleh pegawai yang lain “dosen-dosen senior saja ngomong gitu juga, pada ngga tau tata karama, asal nyelonong aja…”

Pegawai lain menimpali “ada lagi mahasiswa kemarin, katanya dia mahasiswa berprestasi yang mau mengurus berkasnya, dia minjem alat-alat termasuk printer di tata usaha, tapi ya gitu ngga ada sopan santunnya. Ga tau apa kalau dia ganggu di sini?”

Saya segera berpikir mendengar pembicaraan para pegawai tata usaha ini. Bisa menebak apa yang saya pikirkan? Saya dan semua teman-teman saya kuliah di tempat ini, di kampus swasta ini karena dengan mempertaruhkan biaya sumbangan dan spp yang sangat besar bagi orangtua kami. Semua fasilitas yang ada tentu milik kami. Pegawai dan dosen mendapat gaji, hanya dari kami. Iya dari kami para mahasiswa universitas swasta. Namun saya tentu tidak hanya berpikir sampai di sana. Saya melanjutkan perenungan saya di depan telepon tata usaha tersebut.

“kenapa ya pada ngomong di belakang gini? Kalau aja semua orang mau kayak Ibu dosen saya tadi pasti lebih baik.” Kata saya dalam hati. Kalau memang seseorang melakukan hal yang salah segera di tegur dong, bukanya malah ngomongin orang tersebut di belakang. Kalau hanya dibicarakan dibelakang seperti ini mana mungkin mereka yang berbuat salah bisa sadar. Kalau mereka mendengar pembicaraan ini, yang ada objek pembicaraan akan marah dan emosi. Coba seandainya, ketika teman saya yang berprestasi tersebut meminjam beberapa peralatan di ruang tata usaha segera ditegur untuk berperilaku dengan sopan, tentu dengan terguran yang sopan juga bukan yang menyakiti hati.

Seusai saya dari ruang tata usaha saya terus merenungkan hal tersebut. Kejadian ini rupanya cukup sering terjadi dalam kehidupan saya, termasuk saya sendiri pernah melakukanya. Karena pengalaman ini, saya menjadi perlu untuk menciptakan prinsip baru dalam menjalani hidup. Ketika melihat orang melakukan kesalahan, segera tegur dengan sopan saat itu juga, meskipun teguran kita akan terasa kurang menyenangkan, percayalah orang tersebut akan menerima dan segera belajar untuk berusaha lebih baik. Niat kita yang baik tentu akan berbuah baik. Kedua, seberapapun gentingnya keadaan, tetaplah untuk permisi meminta ijin ketika meminjam sesuatu.

Terimakasih telah membaca kisah ini sampai selesai, semoga dapat menginspirasi anda.

Comments

Popular posts from this blog

Mulai menulis - terimakasih untuk orangtua saya, karena hari ini saya sudah 20 tahun bersama kasih sayang kalian

Tanggal 12 maret 2013 kemarin adalah hari ulang tahun saya yang ke 20 tahun. Sebuah hari yang sangat spesial bagi saya, karena kebetulan bertepatan dengan hari raya nyepi. Sebuah hari raya yang sangat saya sukai. Sebuah hari kelahiran yang sangat saya syukuri.
Saya menyukai hari raya nyepi karena ini satu-satunya hari raya yang tidak di rayakan. Tidak membuang energi untuk melakukan sesuatu hal, hanya cukup berdiam diri di dalam rumah. Tanpa lampu, tanpa beraktifitas, tanpa berinteraksi dengan tetangga, tanpa keluar rumah, dan tanpa menggunakan gadget (meskipun saya menggunakan untuk berterimakasih membalas ucapan selamat ulang tahun teman dan saudara saya). lalu apa yang kita lakukan dong? Hanya diam meng-sepi-kan lingkungan sesuai nama harinya, nyepi. Hal yang saya sukai dengan hari raya nyepi karena di hari ini kita dapat berterimakasih dengan tubuh kita yang sudah bekerja dengan penuh perjuangan selama 1 tahun dengan mengistirahatkan tubuh selama 1 hari penuh (hari raya nyepi dil…

#BukaInspirasi untuk 90 Hari Pertama UKM Anda

Keputusan yang Anda buat di awal bisnis (Usaha Kecil Menengah/UKM) berdampak pada laba dan rugi, bahagia dan sakit hati, kesuskesan dan kegagalan. Dalam artikel kali ini, saya merangkum apa yang Anda butuhkan untuk memulai dengan benar, termasuk rencana untuk 90 hari pertama memulai bisnis. Ada pula saran dari pengalaman nyata beberapa rekan pengusaha sukses yang saya kenal. Dilengkapi pula dengan checklist tindakan untuk menghemat uang Anda dimasa depan, dan jawaban atas rahasia keberhasilan dari sebuah bisnis. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang Anda buat setelah membaca artikel ini. Mimpimu telah berakhir. Memulai bisnis dimulai hari ini September, artinya mendekati tahun 2019. Anda pasti telah lama membayangkan produk ciptaan Anda terjual di supermarket dan mencoba menjelaskan pada pemilik supermarket mengenai keunggulan kompetitif dari produk tersebut. Anggaplah tahun ini anda bertekad meluncurkan bisnis tersebut. Pasti anda mulai bingung harus mulainya dari mana bukan? Beriku…

Terapi Khusus dari ASUS

“ini dokter, saya sering sekali merasakan perih pada mata setelah main laptop” keluhan seorang pasien pagi ini, dengan matanya yang merah dan berair. Bekerja di puskesmas di Bali membuat saya kerap kali putar otak untuk mengobati keluhan di atas. Kami menyebutnya penyakit millennial. Penyakit akibat kemajuan teknologi ini semakin banyak terjadi, mulai dari keluhan pada mata, nyeri leher, hingga kekakuan pada jari. Kebetulan sebagian besar usia pasien dengan penyakit ini adalah kaum muda atau millennial yang telah akrab dengan teknologi sedari lahir. Namun sesungguhnya teknologi dapat memberi manfaat seperti yang saya lakukan dengan Laptop ASUS WX232D saya.
Kami menyebutnya sebagai Terapi ASUS. Nama ini terlahir dari laptop ASUS yang mempermudah terapi edukasi pada pasien tanpa batasan usia. Pada pasien tua ini menjadi daya tarik karena penyakit dapat dijelaskan lewat gambar dan animasi. Semakin menarik pada pasien anak-anak karena daya ingin tau yang membuat mereka betah menonton penjel…