Layanan energi modern (Listrik) belum dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di wilayah Indonesia. Tidak hanya di daerah yang jauh dari ibukota seperti Pulau Alor, tapi di Pacitan, di Pulau Jawa pun banyak yang belum terjangkau layanan energi listrik. Inilah fakta yang telah disampaikan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji dalam harian kompas 14 Oktober 2014. Hal tersebut merupakan realita yang ironis, oleh karena Hampir semua kegiatan manusia di era modern ini membutuhkan energi listrik. 

Tidak adanya energi listrik membuat beberapa permasalahan dalam kegiatan manusia sehari-hari. Tanpa listrik, seluruh aktifitas mekanik yang dilakukan manusia akan terbatas pada tenaga uap seperti sebelum tenaga listrik ditemukan. Pabrik dengan tenaga uap memiliki beberapa kekurangan, seperti keterbatasan pengerjaan dan polusi udara sehingga tidak ramah lingkungan. Listrik membuat pengerjaan dalam pabrik lebih ringkas dan produktif, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana bila energi listrik tidak ada di rumah? Peralatan elektronik/listrik dalam rumah tangga telah membuat manusia memiliki banyak waktu luang. Peralatan tersebut juga memberikan keyamanan bagi manusia tanpa perlu bergantung pada pembantu. Salah satu contoh peralatan tersebut adalah mesin cuci. Coba bayangkan ketika mesin cuci anda tak dapat digunakan sehingga anda harus mencuci seluruh pakaian kotor anda dengan tangan. Itulah salah satu contoh bagaimana mlelahkanya bila tidak ada energi listrik dirumah anda. 

Ketiadaan energi listrik turut serta membuat kualitas udara buruk, terhambatnya pendidikan hingga mengancam nyawa seseorang. Lampu listrik telah menggantikan penerangan jaman dahulu yang tidak ramah lingkungan. Lampu listrik juga membuat kesempatan seseorang belajar dalam waktu yang lebih panjang, sehingga aktivitas pendidikan dan pembelajaran dapat terjadi tanpa mengenal waktu. Dari segi kesehatan, energi listrik telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia melalui peralatan diagnostik non-invasif (tanpa melukai tubuh manusia) bertenaga listrik seperti ultrasonografi (USG), magnetic resonance imaging (MRI), Elektro kardiografi (EKG), dan berbagai peralatan medis lainya.

Daerah di Indonesia yang belum terjangkau pelayanan enegi listrik harus mengalami sejumlah penderitaan tersebut, yakni: (1) keterlambatan pertumbuhan ekonomi; (2) kehabisan waktu luang; (3) Pencemaran lingkungan; (4) pendidikan terhambat; dan (5) ancaman kesehatan. Oleh karena permasalahan tersebut, seluruh masyarakat Indonesia perlu memikirkan bersama-sama bagaimana solusi agar seluruh wilayah di Indonesia bisa mendapatkan pelayanan energi listrik. Melalui blog ini saya mencoba memberikan ide kepada masyarakat Indonesia dan PLN dalam mengatasi permasalahan tersebut.
   
Terdapat berbagai solusi agar energi listrik dapat dijangkau seluruh daerah di Indonesia. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menyatakan, pembangunan pembangkit listrik di daerah tersebut menjadi hal yang harus dilakukan. Namun sayangnya target pembangunan tersebut sulit direalisasikan jika hanya berharap kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) sehingga diperlukan pihak-pihak swasta untuk terlibat membangun infrastruktur kelistrikan di Indonesia. Terkait masalah bahan bakar, Susilo mengatakan bahwa pemanfaatan energi terbarukan harus dimulai saat ini untuk menekan biaya impor. Solusi yang paling sesuai untuk permasalahan tersebut adalah membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan energy terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan biogas (PLTB) dan memberikan modal bagi universitas serta masyarakat untuk membangun pembangkit tersebut secara mandiri.

Apakah itu PLTMH dan PLTB? Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) memiliki prinsip sama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yaitu memanfaatkan air yang mengalir, namun PLTMH menghasilkan daya yang lebih kecil yaitu sebesar 5 KW- 1MW per unit. PLTMH sangat cocok dibangun di Indonesia, karena Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan air yang melimpah dan memiliki daerah pegunungan yang cukup banyak. Pembangunan PLTMH dapat dilakukan oleh kelompok masyarakat yang ada di pedesaan asalkan ada air yang mengalir dari ketinggian yang berbeda. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTB) adalah pembangkit listrik dengan bahan bakar gas diperoleh dari produksi gas bio material organik dengan bantuan bakteri. Kandungan metana (CH4) dalam biogas menjadi sumber energi dalam pembangkit listrik ini. Kedua pembangkit tersebut mudah dalam sistem instalasi dan merupakan sumber energi yang bersih dan ramah lingkungan karena efek gas CO2 yang dihasilkan minim hingga tidak dihasilkan. Selain itu, kedua pembangkit listrik ini telah dapat dijalankan secara mandiri oleh sekelompok masyarakat di Indonesia, sehingga besar kemungkinan dapat diterapkan secara luas bagi kelompok masyarakat lain yang belum mendapatkan pelayanan energy listrik.

PLTMH dan PLTB yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat telah banyak dibangun di Indonesia. Beberapa yang dapat saya temukan di google dengan kata kunci “PLTMH PLTB pengabdian masyarakat” adalah: (1) PLTMH di Kampung Nyomplong, Desa Curug Bitung, Kabupaten Bogor bimbingan dari badan eksekutif mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (http://old.ui.ac.id/id/news/archive/6841); (2) PLTMH di Desa Tamblang, Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali bimbingan dan bantuan dari PT Astra Honda Motor (AHM) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (http://ekbis.sindonews.com/read/805230/34/ahm-dan-universitas-udayana-bangun-pltmh); (3) PLTMH di Kampung Bunikasih Desa Cupunagara Kecamatan Cisalak-Subang, bimbingan dan bantuan dari Fakultas Teknik Universitas Subang (http://www.pasundanekspres.co.id/pasundan/12602-kampung-bunikasih-sudah-teraliri-listrik); (4) PLTMH di pesantren Latansa, Desa Cipanas, Kabupaten Lebak Banten bantuan dan bimbingan dari fakultas teknik UHAMKA (http://www.lemlit.uhamka.ac.id/files/Mikrohidro.pdf); (5) Potensi PLTB yang diteliti Andi Hanif pada 10 lokasi yang memiliki peternakan dengan hewan ternak yang banyak diantaranya Sumenep, Malang, Kota Batu, Blitar, Kediri, Tulungagung, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Bojonegoro dan Mojokerto (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16512-2208100628-Paper.pdf); dan banyak lainya yang dapat anda coba untuk mengkasesnya sendiri. 

Beberapa pengalaman tersebut mendukung pelaksanaan pemberdayaan masyarakat untuk membangun PLTMH dan PLTB di daerah masing-masing. Untuk itu PLN perlu memberikan dana bantuan untuk kegiatan pemberdayaan dan pendampingan dalam pembangunan fisik, seta pelatihan perawatan PLTMH dan PLTB sehingga masyarakat dapat melakukan pengoprasian serta perawatan yang diperlukan secara mandiri. Solusi ini memberikan tanggung jawab perawatan listrik tidak hanya kepada PLN, namun pada masyarakat penggunanya seperti pepatah yang berbunyi, “Kalau bukan kita siapa lagi?” Demikian ide yang bisa saya berikan, semoga dapat bermanfaat untuk mengatasi keterbatasan jangkauan listrik pada beberapa daerah di Indonesia.

Ciptakan masyarakat berdaya dengan pemenuhan kebutuhan energi mandiri

Layanan energi modern (Listrik) belum dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di wilayah Indonesia. Tidak hanya di daerah yang jauh dari ibukota seperti Pulau Alor, tapi di Pacitan, di Pulau Jawa pun banyak yang belum terjangkau layanan energi listrik. Inilah fakta yang telah disampaikan oleh Direktur Utama PT PLN (Persero) Nur Pamudji dalam harian kompas 14 Oktober 2014. Hal tersebut merupakan realita yang ironis, oleh karena Hampir semua kegiatan manusia di era modern ini membutuhkan energi listrik. 

Tidak adanya energi listrik membuat beberapa permasalahan dalam kegiatan manusia sehari-hari. Tanpa listrik, seluruh aktifitas mekanik yang dilakukan manusia akan terbatas pada tenaga uap seperti sebelum tenaga listrik ditemukan. Pabrik dengan tenaga uap memiliki beberapa kekurangan, seperti keterbatasan pengerjaan dan polusi udara sehingga tidak ramah lingkungan. Listrik membuat pengerjaan dalam pabrik lebih ringkas dan produktif, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana bila energi listrik tidak ada di rumah? Peralatan elektronik/listrik dalam rumah tangga telah membuat manusia memiliki banyak waktu luang. Peralatan tersebut juga memberikan keyamanan bagi manusia tanpa perlu bergantung pada pembantu. Salah satu contoh peralatan tersebut adalah mesin cuci. Coba bayangkan ketika mesin cuci anda tak dapat digunakan sehingga anda harus mencuci seluruh pakaian kotor anda dengan tangan. Itulah salah satu contoh bagaimana mlelahkanya bila tidak ada energi listrik dirumah anda. 

Ketiadaan energi listrik turut serta membuat kualitas udara buruk, terhambatnya pendidikan hingga mengancam nyawa seseorang. Lampu listrik telah menggantikan penerangan jaman dahulu yang tidak ramah lingkungan. Lampu listrik juga membuat kesempatan seseorang belajar dalam waktu yang lebih panjang, sehingga aktivitas pendidikan dan pembelajaran dapat terjadi tanpa mengenal waktu. Dari segi kesehatan, energi listrik telah menyelamatkan jutaan nyawa manusia melalui peralatan diagnostik non-invasif (tanpa melukai tubuh manusia) bertenaga listrik seperti ultrasonografi (USG), magnetic resonance imaging (MRI), Elektro kardiografi (EKG), dan berbagai peralatan medis lainya.

Daerah di Indonesia yang belum terjangkau pelayanan enegi listrik harus mengalami sejumlah penderitaan tersebut, yakni: (1) keterlambatan pertumbuhan ekonomi; (2) kehabisan waktu luang; (3) Pencemaran lingkungan; (4) pendidikan terhambat; dan (5) ancaman kesehatan. Oleh karena permasalahan tersebut, seluruh masyarakat Indonesia perlu memikirkan bersama-sama bagaimana solusi agar seluruh wilayah di Indonesia bisa mendapatkan pelayanan energi listrik. Melalui blog ini saya mencoba memberikan ide kepada masyarakat Indonesia dan PLN dalam mengatasi permasalahan tersebut.
   
Terdapat berbagai solusi agar energi listrik dapat dijangkau seluruh daerah di Indonesia. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo menyatakan, pembangunan pembangkit listrik di daerah tersebut menjadi hal yang harus dilakukan. Namun sayangnya target pembangunan tersebut sulit direalisasikan jika hanya berharap kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) sehingga diperlukan pihak-pihak swasta untuk terlibat membangun infrastruktur kelistrikan di Indonesia. Terkait masalah bahan bakar, Susilo mengatakan bahwa pemanfaatan energi terbarukan harus dimulai saat ini untuk menekan biaya impor. Solusi yang paling sesuai untuk permasalahan tersebut adalah membangun pembangkit listrik dengan memanfaatkan energy terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dan biogas (PLTB) dan memberikan modal bagi universitas serta masyarakat untuk membangun pembangkit tersebut secara mandiri.

Apakah itu PLTMH dan PLTB? Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) memiliki prinsip sama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yaitu memanfaatkan air yang mengalir, namun PLTMH menghasilkan daya yang lebih kecil yaitu sebesar 5 KW- 1MW per unit. PLTMH sangat cocok dibangun di Indonesia, karena Indonesia merupakan negara yang memiliki cadangan air yang melimpah dan memiliki daerah pegunungan yang cukup banyak. Pembangunan PLTMH dapat dilakukan oleh kelompok masyarakat yang ada di pedesaan asalkan ada air yang mengalir dari ketinggian yang berbeda. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTB) adalah pembangkit listrik dengan bahan bakar gas diperoleh dari produksi gas bio material organik dengan bantuan bakteri. Kandungan metana (CH4) dalam biogas menjadi sumber energi dalam pembangkit listrik ini. Kedua pembangkit tersebut mudah dalam sistem instalasi dan merupakan sumber energi yang bersih dan ramah lingkungan karena efek gas CO2 yang dihasilkan minim hingga tidak dihasilkan. Selain itu, kedua pembangkit listrik ini telah dapat dijalankan secara mandiri oleh sekelompok masyarakat di Indonesia, sehingga besar kemungkinan dapat diterapkan secara luas bagi kelompok masyarakat lain yang belum mendapatkan pelayanan energy listrik.

PLTMH dan PLTB yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat telah banyak dibangun di Indonesia. Beberapa yang dapat saya temukan di google dengan kata kunci “PLTMH PLTB pengabdian masyarakat” adalah: (1) PLTMH di Kampung Nyomplong, Desa Curug Bitung, Kabupaten Bogor bimbingan dari badan eksekutif mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (http://old.ui.ac.id/id/news/archive/6841); (2) PLTMH di Desa Tamblang, Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali bimbingan dan bantuan dari PT Astra Honda Motor (AHM) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (http://ekbis.sindonews.com/read/805230/34/ahm-dan-universitas-udayana-bangun-pltmh); (3) PLTMH di Kampung Bunikasih Desa Cupunagara Kecamatan Cisalak-Subang, bimbingan dan bantuan dari Fakultas Teknik Universitas Subang (http://www.pasundanekspres.co.id/pasundan/12602-kampung-bunikasih-sudah-teraliri-listrik); (4) PLTMH di pesantren Latansa, Desa Cipanas, Kabupaten Lebak Banten bantuan dan bimbingan dari fakultas teknik UHAMKA (http://www.lemlit.uhamka.ac.id/files/Mikrohidro.pdf); (5) Potensi PLTB yang diteliti Andi Hanif pada 10 lokasi yang memiliki peternakan dengan hewan ternak yang banyak diantaranya Sumenep, Malang, Kota Batu, Blitar, Kediri, Tulungagung, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, Bojonegoro dan Mojokerto (http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-16512-2208100628-Paper.pdf); dan banyak lainya yang dapat anda coba untuk mengkasesnya sendiri. 

Beberapa pengalaman tersebut mendukung pelaksanaan pemberdayaan masyarakat untuk membangun PLTMH dan PLTB di daerah masing-masing. Untuk itu PLN perlu memberikan dana bantuan untuk kegiatan pemberdayaan dan pendampingan dalam pembangunan fisik, seta pelatihan perawatan PLTMH dan PLTB sehingga masyarakat dapat melakukan pengoprasian serta perawatan yang diperlukan secara mandiri. Solusi ini memberikan tanggung jawab perawatan listrik tidak hanya kepada PLN, namun pada masyarakat penggunanya seperti pepatah yang berbunyi, “Kalau bukan kita siapa lagi?” Demikian ide yang bisa saya berikan, semoga dapat bermanfaat untuk mengatasi keterbatasan jangkauan listrik pada beberapa daerah di Indonesia.

1 comment:

  1. artikel Ciptakan masyarakat berdaya dengan pemenuhan kebutuhan energi mandiri ini sangat menarik dan menginspirasi.

    Ternyata banyak sekali ya masukan dari blogger untuk membuat PLN lebih baik.

    Postingan ini diikutkan lomba blog Ideku untuk PLN ya?

    Good luck ya

    http://antie.info

    ReplyDelete