Skip to main content

Senyum Optimis Penderita Kanker Pankreas

Tengah malam dengan kondisi setengah sadar, saya dibangunkan oleh seorang yang kesakitan memegang perutnya. Saya berada di sebuah unit gawat darurat sebuah rumah sakit daerah di Bali. Dalam keadaan setengah sadar saya melihat arloji yang menunjukan pukul 01.30 dini hari, dan bertanya dalam hati, penyakit apa yang membawa seorang datang pada jam yang tidak wajar ini. Seorang laki-laki yang di papah istrinya itu kini dapat saya lihat lebih jelas, kulit dan matanya sekilas tampak kuning. Segera saya rebahkan laki-laki tersebut di tempat tidur pemeriksaan. Sang Istri terus berbicara meminta tolong kepada saya untuk mengobati penyakit suaminya. Perihnya kelopak mata dan tubuh yang lemas karena kurang tidur ini harus saya lawan. Saya harus mencoba menenangkan diri dahulu untuk dapat mengajak ibu ini berbicara dengan perlahan, demi mengais informasi yang kiranya dapat membantu menegakan diagnosa laki-laki dengan tubuh kuning ini.

Saya seorang mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani pendidikan profesi di rumah sakit ini. Guru saya (paramedis) atau rekan-rekan mahasiswa lainya yang bertugas di ruangan penerima pasien dengan penyakit gawat dan darurat ini sudah sering mendengarkan teriakan seorang meminta pertolongan disaat masyarakat lain sedang istirahat. Namun pasien yang saya hadapi kali ini memiliki penyakit yang belum pernah saya tangani sebelumnya. Kanker pankreas.
***
Pagi ini cahaya matahari telah bersinar menerangi seluruh rerumputan halaman rumah sakit. Namun sayangnya belum ada cahaya yang terang mengenai pengobatan pasien kanker pankreas di Indonesia. Ditengah hangatnya matahari pagi, saya berjalan menyusuri koridor sambil mendiskusikan pasien tersebut bersama para senior. Seorang dokter ahli Bedah kanker yang saya ajak berdiskusi kemudian melontarkan pernyataan yang membuat saya heran.
“Dik, kamu harus tau kenyaaan ini, kanker pankreas yang telah menunjukan gejala, artinya sudah menunjukan jarak yang dekat antara pasien tersebut dengan kematian” Kata sang dokter dengan tatapannya yang tajam, seakan mencoba menghentikan rasa optimis saya, dengan ucapan dan sorot mata seriusnya.
Tidak dapat dipercaya, pernyataan yang pesimis itu tentu hanya omong kosong. Namun sayangnya, hasil penelusuran saya pada beberapa penelitian, memaksa saya mempercayainya. Kanker pankreas merupakan tumor terganas.[1] Sifat keganasanya membuat kematian begitu dekat saat beberapa gejala kanker ini muncul.[2] Kini pikiran saya kembali dibayangi ucapan permintaan tolong dari pasien kanker pankreas tersebut. Adakah cara yang dapat menyembuhkan mereka?
Penyembuhan kanker sangat bergantung dari tingkat keparahan penyakit, yang dinilai dari gejala dan keluhan pada pasien, serta beberapa pemeriksaan tambahan. Tingkat keparahan ini yang dikenal sebagai stadium. Semakin tinggi stadium kanker, maka semakin sulit untuk mengobatinya. Uniknya, keluhan dan gejala kanker pankreas muncul pada saat stadium akhir. Dengan kata lain, stadium awal penyakit ini tidak menunjukan gejala. Olehkarenanya, para dokter dan peneliti medis di seluruh dunia sedang berlomba mencari cara pendeteksi dini stadium awal penyakit ini, dengan harapan kesembuhan pasien menjadi lebih besar.[3] Bila deteksi dini dari penyakit ini adalah jalan keluar, namun mengapa masih ada pasien dengan stadium lanjut?
Ketika keluhan dan gejala pada pasien tidak cukup untuk menegakkan diagnosa, maka seorang dokter memerlukan alat tambahan yang disebut pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang inilah yang menjadi salah satu teknik dalam mendeteksi dini stadium awal penyakit kanker. Pada kanker payudara misalnya, diperlukan mamografi untuk mengukur tumor dengan pasti. Sedangkan kanker pankreas, memerlukan pemeriksaan protein spesifik pada darah (CA 19-9) dengan harga pemeriksaan yang sangat mahal.[4] Mahalnya pemeriksaan tersebut membuat deteksi dini kanker hanya menjadi mimpi bagi rumah sakit daerah. Pasien harus mengeluarkan biaya tambahan (malah cukup besar), untuk mendapatkan pemeriksaan tersebut pada rumah sakit swasta di kota besar.
Kita memang tidak bisa menyalahkan pemerintah, karena bila dipikir dengan matang, masih ada hal lain yang layak diprioritaskan bagi penyelenggara negara. Penyakit ini masih berada diurutan ke 6 dari pola penyakit nasional, artinya pemerintah masih memprioritaskan 5 penyakit lainnya. Meskipun demikian, setiap tahunnya terdapat 100 kasus baru yang terjadi diantara 100.000 penduduk. Celakanya lagi, 70% dari penderita kanker di Indonesia ditemukan pada stadium akhir, sehingga tidak heran bila penyakit ini cukup berkontribusi pada jumlah kematian akibat penyakit tidak menular utama di negara ini.[5] Saya kembali berpikir, sangat penting untuk menemukan solusi permasalahan ini. Sebuah solusi dengan biaya yang murah, karena pemerintah kita sepertinya sudah pasrah dengan solusi ber-dana besar.[6]
***
Langit mendung menemani perjalanan pulang saya menuju kota Denpasar. Cuaca yang pas untuk mewakili perasaan kalut saya dalam pencarian solusi dari pasien kanker. Rintik-rintik hujan mulai membasahi jemari saya yang memegang pedal motor, seketika hujan menjadi begitu deras. Cuaca bulan ini memang begitu cepat berubah-ubah, tidak dapat ditebak. Tidak ingin pulang dengan basah kuyup, saya memutuskan untuk berteduh di sebuah coffe shop di wilayah Pantai Saba. Tempat ini mengingatkan pertemuan saya dengan Narendra, seorang aktivis dan peneliti yang megenalkan saya dengan kripik daun kemangi, karyanya yang sempat menjuarai kompetisi se Bali-Nusa Tenggara. Di tempat inilah kami mendiskusikan karya tersebut. Mengolah kemangi menjadi sebuah kripik membuat makanan ini lebih bisa diterima di mulut. Kandungan zat gizi dalam kemangi juga telah diteliti dapat membantu pengobatan diabetes. Lalu saya bertanya-tanya apakah mungkin Narendra membuat karya baru yang dapat mengobati kanker di Indonesia dengan harga yang murah?
Narendra adalah pria yang berkacamata dalam kliping koran tersebut.

Saya dan Narendra memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Kami berdua adalah adalah mahasiswa kedokteran yang bersama-sama mengembangkan beberapa penelitian dalam komunitas kampus. Bedanya, Narendra seorang  aktivis yang memiliki beberapa ide brilliant dalam menyampaikan aspirasinya pada pemerintah. Di pertengahan tahun 2016, ia melihat bahwa kesetaraan gender di Bali masih jauh dari kata tercapai. Melihat kesenjangan tersebut, Ia mengajak beberapa teman aktivis dan United Nation untuk membuat sebuah acara untuk mempertemukan pakar kebudayaan, pendidikan, kedokteran dan anggota DPD RI merumuskan sebuah rekomendasi untuk Sustainable Development Goal’s yakni Achieve Gender Equality and Empower All Women And Girls.[7] Kilasan memori pertengahan tahun itu membuat saya bertanya, apakah mungkin Narendra punya sebuah ide, untuk membujuk pemerintah agar lebih perduli dengan pasien kanker? Atau membuat semua orang di Indonesia memikirkan solusi ini bersama-sama?
Dokumentasi Meet The Expert - Acara yang digagas oleh Narendra dan kawan-kawannya

Mendadak kekalutan pikiran saya dihapus oleh dentingan secangkir kopi espresso pada meja, persis di hadapan saya. Mungkin bukan espresso yang mengubah fokus saya, namun sosok perempuan cantik pemberi kopi tersebut. Senyuman dan raut wajahnya yang manis membuat saya tidak mendengar apa yang diucapnya.
“maaf, apa mbak?” saya bertanya dengan sedikit mendekatkan telinga kanan.
“yang muda1, password wifinya pak, hehe, tadi kan Bapak bertanya..” perempuan tersebut menjawab dengan tawa kecilnya.
Seketika saya ikut tertawa sembari memasukan password wifi tersebut pada laptop. Password yang unik disampaikan oleh perempuan muda yang cantik. Memang yang muda itu selalu bisa mengundang perhatian. Benar sekali, pemuda bisa menjadi solusi pembangunan kesehatan khususnya problem kanker di Indonesia ini.
Yang muda memang nomor satu. Juara Intel Youth Award, Jack Andraka boleh dibilang hanya seorang bocah berumur 15 tahun, namun berhasil menemukan kertas pendeteksi kanker pancreas dengan hasil 28 kali lebih cepat dalam mendiagnosis, 28 kali lebih murah, 100 kali lebih sensitif dari pemeriksaan standar saat ini.[8] Saya menjadi terinspirasi dengan inovasi yang dihasilkan oleh bocah ini. Jari jemari saya bergerak begitu cepat untuk mengirimkan kabar ini melalui email kepada Narendra, dengan harapan bisa menghasilkan kertas diganostik lainya yang bisa diterapkan di daerah terpencil di Indonesia. Narendra merespon email saya dengan cepat, ia ternyata telah memiliki ide serupa dengan beberapa rekan komunitas penelitinya di Malang. Tiga pemuda belum cukup, maka saya berharap dapat mengajak sebanyak-banyaknya peneliti di Indonesia untuk bersama mengembangkan ide serupa melalui tulisan ini. Kami pemuda Indonesia pernah memiliki sumpah pemuda yang berhasil mempersatukan tumpah darah, bangsa dan bahasa menjadi satu, yaitu Indonesia. Jiwa pemuda dan perjuangan yang sama kini seperti mengalir pada darah kami untuk menemukan karya baru yang bisa menjadi solusi pembangunan kesehatan di Indonesia. Seperti password wifi tersebut, yang muda yang akan menjadi password (kunci) solusi berbagai misteri penyakit di negeri ini.
Rintik-rintik hujan mulai berkurang seiring dengan habisnya Espresso pada cangkir kopi saya.

***
Langit malam yang hari ini ternyata begitu indah, kini awan hujan tidak lagi berada disana. Tanpa ada awan yang menghalangi, Bintang di langit begitu mudah menampakan kilauannya yang penuh misteri. Ketika tulisan ini saya selesaikan, pasien kanker pankreas tersebut telah menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU. Seluruh tindakan operatif dan perawatan yang kami lakukan tentunya telah mengobati rasa sakit pasien tersebut di akhir kehidupanya. Saya masih mengingat senyuman dan ucapan terimakasih pasien berkulit kuning itu. Ucapan terimakasih kepada seorang pemuda yang telah membantunya mengurangi rasa nyeri dan rasa mualnya, sebelum bertemu dengan sang ilahi. Kilasan memori itu sungguh menghangatkan diri melawan dinginnya suasana malam di koridor rumah sakit.

Referensi

[1] Wolfgang, C. L., Herman, J. M., Laheru, D. A., Klein, A. P., Erdek, M. A., Fishman, E. K., & Hruban, R. H. (2013). Recent Progress in Pancreatic Cancer. CA: A Cancer Journal for Clinicians, 63(5), 318–348. http://doi.org/10.3322/caac.21190
[2] Vincent, A., Herman, J., Schulick, R., Hruban, R. H., & Goggins, M. (2011). Pancreatic cancer. Lancet (London, England), 378(9791), 607–620. http://doi.org/10.1016/S0140-6736(10)62307-0
[3] Poruk, K. E., Firpo, M. A., Adler, D. G., & Mulvihill, S. J. (2013). Screening for Pancreatic Cancer: Why, How, and Who? Annals of Surgery, 257(1), 17–26. http://doi.org/10.1097/SLA.0b013e31825ffbfb
[4] Yue, T., Partyka, K., Maupin, K., Hurley, M., Andrews, P., Kaul, K., … Haab, B. B. (2011). Identification of blood-protein carriers of the CA 19-9 antigen and characterization of prevalence in pancreatic diseases. Proteomics, 11(18), 3665–3674. http://doi.org/10.1002/pmic.201000827
[5] R Oemiati, E Rahajeng… - Buletin Penelitian …, 2011 - ejournal.litbang.depkes.go.id http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/BPK/article/viewFile/56/46
[6] Yoga Sukmana (2016) Keyakinan Sri Mulyani Usai Pangkas Anggaran Rp 133 Triliun. Bisnis Keuangan Kompas. http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/08/04/191526126/keyakinan.sri.mulyani.usai.pangkas.anggaran.rp.133.triliun.
[7] JD Sachs (2012) From millennium development goals to sustainable development goals. The Lancet - thelancet.com DOI: http://dx.doi.org/10.1016/S0140-6736(12)60685-0
[8] Stodd, R. T. (Ed.). (2012). The Weathervane. Hawai’i Journal of Medicine & Public Health, 71(7), 202. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3392557/

Comments

Popular posts from this blog

Mulai menulis - terimakasih untuk orangtua saya, karena hari ini saya sudah 20 tahun bersama kasih sayang kalian

Tanggal 12 maret 2013 kemarin adalah hari ulang tahun saya yang ke 20 tahun. Sebuah hari yang sangat spesial bagi saya, karena kebetulan bertepatan dengan hari raya nyepi. Sebuah hari raya yang sangat saya sukai. Sebuah hari kelahiran yang sangat saya syukuri.
Saya menyukai hari raya nyepi karena ini satu-satunya hari raya yang tidak di rayakan. Tidak membuang energi untuk melakukan sesuatu hal, hanya cukup berdiam diri di dalam rumah. Tanpa lampu, tanpa beraktifitas, tanpa berinteraksi dengan tetangga, tanpa keluar rumah, dan tanpa menggunakan gadget (meskipun saya menggunakan untuk berterimakasih membalas ucapan selamat ulang tahun teman dan saudara saya). lalu apa yang kita lakukan dong? Hanya diam meng-sepi-kan lingkungan sesuai nama harinya, nyepi. Hal yang saya sukai dengan hari raya nyepi karena di hari ini kita dapat berterimakasih dengan tubuh kita yang sudah bekerja dengan penuh perjuangan selama 1 tahun dengan mengistirahatkan tubuh selama 1 hari penuh (hari raya nyepi dil…

#BukaInspirasi untuk 90 Hari Pertama UKM Anda

Keputusan yang Anda buat di awal bisnis (Usaha Kecil Menengah/UKM) berdampak pada laba dan rugi, bahagia dan sakit hati, kesuskesan dan kegagalan. Dalam artikel kali ini, saya merangkum apa yang Anda butuhkan untuk memulai dengan benar, termasuk rencana untuk 90 hari pertama memulai bisnis. Ada pula saran dari pengalaman nyata beberapa rekan pengusaha sukses yang saya kenal. Dilengkapi pula dengan checklist tindakan untuk menghemat uang Anda dimasa depan, dan jawaban atas rahasia keberhasilan dari sebuah bisnis. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang Anda buat setelah membaca artikel ini. Mimpimu telah berakhir. Memulai bisnis dimulai hari ini September, artinya mendekati tahun 2019. Anda pasti telah lama membayangkan produk ciptaan Anda terjual di supermarket dan mencoba menjelaskan pada pemilik supermarket mengenai keunggulan kompetitif dari produk tersebut. Anggaplah tahun ini anda bertekad meluncurkan bisnis tersebut. Pasti anda mulai bingung harus mulainya dari mana bukan? Beriku…

Terapi Khusus dari ASUS

“ini dokter, saya sering sekali merasakan perih pada mata setelah main laptop” keluhan seorang pasien pagi ini, dengan matanya yang merah dan berair. Bekerja di puskesmas di Bali membuat saya kerap kali putar otak untuk mengobati keluhan di atas. Kami menyebutnya penyakit millennial. Penyakit akibat kemajuan teknologi ini semakin banyak terjadi, mulai dari keluhan pada mata, nyeri leher, hingga kekakuan pada jari. Kebetulan sebagian besar usia pasien dengan penyakit ini adalah kaum muda atau millennial yang telah akrab dengan teknologi sedari lahir. Namun sesungguhnya teknologi dapat memberi manfaat seperti yang saya lakukan dengan Laptop ASUS WX232D saya.
Kami menyebutnya sebagai Terapi ASUS. Nama ini terlahir dari laptop ASUS yang mempermudah terapi edukasi pada pasien tanpa batasan usia. Pada pasien tua ini menjadi daya tarik karena penyakit dapat dijelaskan lewat gambar dan animasi. Semakin menarik pada pasien anak-anak karena daya ingin tau yang membuat mereka betah menonton penjel…