Hujan di awal bulan november rupanya tidak memadamkan semangatnya untuk menemukan kayu dan daun kelapa yang kering. Lelaki berusia 60 tahun ini rupanya menggunakan sampah hayati tersebut sebagai bahan untuk mengisi perutnya hari ini. Di zaman milenial dan di tengah gempuran globalisasi yang melanda Pulau Bali, ternyata masih ada keluarga yang memasak menggunakan kayu bakar.
"Ya memang murah Pak, tapi dampaknya bapak susah sembuh dari penyakit batuk bapak" kata rekan saya kepada Pak Wayan, warga Desa Sayan Ubud yang puluhan tahun telah menggunakan kayu bakar untuk memasak.
bersama Pak Wayan mencari sampah hayati

Berkali-kali negosiasi kami lakukan untuk membuat warga desa di pulau dewata ini untuk berhenti menggunakan kayu bakar dalam memasak. Namun malang, berkali-kali pula kami dengarkan penolakan warga dengan alasan murah. Pun begitu, kami tidak menyerah.  Kami tetap berusaha pergi ke desa lain, Untuk mengejar kemungkinan sebuah desa yang dapat kami bujuk meninggalkan kayu bakar untuk menggunakan gas bumi.
Profesi sebagai dokter di masyarakat membuat kami berjuang sangat keras untuk merubah perilaku masyarakat menjadi sehat. Karena, kebiasaan warga dari memasak menggunakan kayu bakar sangat erat kaitanya dengan kejadian infeksi saluran pernafasan yang tinggi kabupaten Gianyar (Dinkes GIanyar, 2016). Entah sudah berapa jumlah keluarga telah kami anjurkan menggunakan kompor gas dengan alasan menjaga kesehatan diri mereka.
"Ini pak, kalau masih pakai kompor kayu bakar ini, paru-paru bapak cepet rusak, makanya sering batuk-batuk jadinya Pak" ucap saya pada seorang warga desa Tulikup Gianyar
Sungguh sulit meyakinkan masyarakat akan efek asap karbon dalam melumpuhkan sistem pertahanan sel paru-paru untuk mengeluarkan kotoran dan kuman. Padahal semua ini sangat mudah dipahami. Bila kotoran dan kuman tertumpuk di paru-paru, pasti seorang pasien mengalami infeksi saluran nafas dengan salah satu gejala batuk tersebut. namun nyatanya, asap kayu bakar tetap mengepul disetiap rumah yang kami temui, meskipun masyarakat telah mengetahui dampak buruknya.
“Ini Bu, anak ibu juga sakit karena kayu bakar ini. Bulan ini sudah dua kali lo anak ibu batuk-batuk.” saya menegur ibu kadek, yang selalu mengajak si kecil ketika memasak dengan kompor kayu bakarnya.
Tim Dokter yang melakukan edukasi mengenai bahaya kompor kayu bakar

Dampak asap kompor kayu bakar sesungguhnya hampir selalu menggrogoti satu keluarga. seperti kasus anak ibu kadek, yang penyakit batuknya menjadi alasan untuk langganan berobat di puskesmas. Puskesmas yang menjadi ujung tombak penyakit juga nyaris lempar handuk untuk mengubah perilaku masyarakat mengenai dampak paparan asap ini.
"Ya beginilah kenyataannya di lapangan, menggunakan kompor gas memang solusinya, tapi mau gimana lagi, ujungnya semua perlu dana, dan dana buat beli itu warga nggak ada." Ucap Seorang Petugas Puskesmas di wilayah Gianyar yang membimbing kami.
“Itu baru kompor di rumah, di desa tulikup Gianyar ini banyak berdiri pabrik pencetak batu bata, dan sebagian besar masih menggunakan kayu bakar.” Beliau menambahkan seakan meyakinkan bahwa kayu bakar sangat lekat dengan aktivitas masyarakat.
Saya bersama petugas Puskesmas wilayah Gianyar

Kayu bakar memang begitu lekat dan membumi. Teknologi purbakala yang mengakar sejak ribuan tahun silam, sungguh sulit dicabut dari masyarakat. Tapi kesulitan tersebut tidak menjadi alasan untuk maki berhenti dalam mengubah prilaku yang salah di masyarakat.

Kesehatan masyarakat harus kami perjuangkan, karena itu adalah sumpah yang kami laksanakan sampai akhir hayat.

Suasana langit mendung membuat kami memilih berteduh sembari mencari penawar rasa pesimis ini. Hingga akhirnya, sebuah tulisan teman mengenai perusahaan gas pemerintah pada blog-nya mampu memudarkan rasa pesimis kami.


Tim Dokter berkumpul bersama untuk mencari solusi mengganti kompor kayu bakar dengan kompor gas bumi

Perusahaan Gas Negara (PGN) menghadirkan produk gas murah, bahkan lebih murah dari harga gas elpiji, apalagi dengan instalasi yang mudah. Luarbiasa. Ini sungguh modal besar untuk membujuk para pemuja kompor kayu bakar untuk beralih menjadi kompor gas bumi. Saat tulisan ini dibuat, kami sedang berusaha melakukan kontak dengan PGN untuk membantu pengabdian yang kami lakukan di Bali dalam membumikan gas bumi, sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui tulisan ini, kami mengajak siapapun yang mampu berkontribusi untuk mengganti penggunaan kompor kayu bakar menjadi kompor gas. Hanya usaha anda yang dapat membantu mengubur kayu bakar yang hampir mustahil dipunahkan, kemudian menggantinya dengan membumikan gas bumi di negeri yang kita cintai. Apalagi, menggunakan kompor gas bumi memberikan bonus kesehatan diri dan lingkungan anda.

Mustahil Membumikan Gas Bumi, selama Kayu Bakar di Bumi


Hujan di awal bulan november rupanya tidak memadamkan semangatnya untuk menemukan kayu dan daun kelapa yang kering. Lelaki berusia 60 tahun ini rupanya menggunakan sampah hayati tersebut sebagai bahan untuk mengisi perutnya hari ini. Di zaman milenial dan di tengah gempuran globalisasi yang melanda Pulau Bali, ternyata masih ada keluarga yang memasak menggunakan kayu bakar.
"Ya memang murah Pak, tapi dampaknya bapak susah sembuh dari penyakit batuk bapak" kata rekan saya kepada Pak Wayan, warga Desa Sayan Ubud yang puluhan tahun telah menggunakan kayu bakar untuk memasak.
bersama Pak Wayan mencari sampah hayati

Berkali-kali negosiasi kami lakukan untuk membuat warga desa di pulau dewata ini untuk berhenti menggunakan kayu bakar dalam memasak. Namun malang, berkali-kali pula kami dengarkan penolakan warga dengan alasan murah. Pun begitu, kami tidak menyerah.  Kami tetap berusaha pergi ke desa lain, Untuk mengejar kemungkinan sebuah desa yang dapat kami bujuk meninggalkan kayu bakar untuk menggunakan gas bumi.
Profesi sebagai dokter di masyarakat membuat kami berjuang sangat keras untuk merubah perilaku masyarakat menjadi sehat. Karena, kebiasaan warga dari memasak menggunakan kayu bakar sangat erat kaitanya dengan kejadian infeksi saluran pernafasan yang tinggi kabupaten Gianyar (Dinkes GIanyar, 2016). Entah sudah berapa jumlah keluarga telah kami anjurkan menggunakan kompor gas dengan alasan menjaga kesehatan diri mereka.
"Ini pak, kalau masih pakai kompor kayu bakar ini, paru-paru bapak cepet rusak, makanya sering batuk-batuk jadinya Pak" ucap saya pada seorang warga desa Tulikup Gianyar
Sungguh sulit meyakinkan masyarakat akan efek asap karbon dalam melumpuhkan sistem pertahanan sel paru-paru untuk mengeluarkan kotoran dan kuman. Padahal semua ini sangat mudah dipahami. Bila kotoran dan kuman tertumpuk di paru-paru, pasti seorang pasien mengalami infeksi saluran nafas dengan salah satu gejala batuk tersebut. namun nyatanya, asap kayu bakar tetap mengepul disetiap rumah yang kami temui, meskipun masyarakat telah mengetahui dampak buruknya.
“Ini Bu, anak ibu juga sakit karena kayu bakar ini. Bulan ini sudah dua kali lo anak ibu batuk-batuk.” saya menegur ibu kadek, yang selalu mengajak si kecil ketika memasak dengan kompor kayu bakarnya.
Tim Dokter yang melakukan edukasi mengenai bahaya kompor kayu bakar

Dampak asap kompor kayu bakar sesungguhnya hampir selalu menggrogoti satu keluarga. seperti kasus anak ibu kadek, yang penyakit batuknya menjadi alasan untuk langganan berobat di puskesmas. Puskesmas yang menjadi ujung tombak penyakit juga nyaris lempar handuk untuk mengubah perilaku masyarakat mengenai dampak paparan asap ini.
"Ya beginilah kenyataannya di lapangan, menggunakan kompor gas memang solusinya, tapi mau gimana lagi, ujungnya semua perlu dana, dan dana buat beli itu warga nggak ada." Ucap Seorang Petugas Puskesmas di wilayah Gianyar yang membimbing kami.
“Itu baru kompor di rumah, di desa tulikup Gianyar ini banyak berdiri pabrik pencetak batu bata, dan sebagian besar masih menggunakan kayu bakar.” Beliau menambahkan seakan meyakinkan bahwa kayu bakar sangat lekat dengan aktivitas masyarakat.
Saya bersama petugas Puskesmas wilayah Gianyar

Kayu bakar memang begitu lekat dan membumi. Teknologi purbakala yang mengakar sejak ribuan tahun silam, sungguh sulit dicabut dari masyarakat. Tapi kesulitan tersebut tidak menjadi alasan untuk maki berhenti dalam mengubah prilaku yang salah di masyarakat.

Kesehatan masyarakat harus kami perjuangkan, karena itu adalah sumpah yang kami laksanakan sampai akhir hayat.

Suasana langit mendung membuat kami memilih berteduh sembari mencari penawar rasa pesimis ini. Hingga akhirnya, sebuah tulisan teman mengenai perusahaan gas pemerintah pada blog-nya mampu memudarkan rasa pesimis kami.


Tim Dokter berkumpul bersama untuk mencari solusi mengganti kompor kayu bakar dengan kompor gas bumi

Perusahaan Gas Negara (PGN) menghadirkan produk gas murah, bahkan lebih murah dari harga gas elpiji, apalagi dengan instalasi yang mudah. Luarbiasa. Ini sungguh modal besar untuk membujuk para pemuja kompor kayu bakar untuk beralih menjadi kompor gas bumi. Saat tulisan ini dibuat, kami sedang berusaha melakukan kontak dengan PGN untuk membantu pengabdian yang kami lakukan di Bali dalam membumikan gas bumi, sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Melalui tulisan ini, kami mengajak siapapun yang mampu berkontribusi untuk mengganti penggunaan kompor kayu bakar menjadi kompor gas. Hanya usaha anda yang dapat membantu mengubur kayu bakar yang hampir mustahil dipunahkan, kemudian menggantinya dengan membumikan gas bumi di negeri yang kita cintai. Apalagi, menggunakan kompor gas bumi memberikan bonus kesehatan diri dan lingkungan anda.

No comments:

Post a Comment