Meskipun  tidak lazim, namun hasil penelitian mengungkap bahwa kekurangan waktu tidur ternyata dapat menangkal gejala depresi


Riset kesehatan dasar tahun 2013 menemukan bahwa 14 juta orang di Indonesia mengalami gangguan psikologis berupa depresi. Hingga saat ini, terapi Konseling dan obat antidepresan merupakan pengobatan yang paling umum digunakan, namun efek positif kedua terapi tersebut umumnya terjadi dalam jangka waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Hasil Meta-analisis yang dilakukan oleh Universitas Pennsylvania justru memunculkan potensi terapi baru, yakni pengurangan waktu tidur dengan pengawasan medis dapat mengurangi gejala depresi sekurang-kurangnya dalam waktu 24 jam.

Dalam kondisi tertentu, kurang tidur ternyata memiliki efek antidepresan yang potensial, namun seberapa efektif dan bagaimana terapi ini dapat bekerja masih menjadi misteri hingga saat ini. Untuk menginvestigasi lebih lanjut,  para peneliti mengumpulkan sejumlah 2000 penelitian selama 36 tahun terakhir, dan ditemukanlah 66 penelitian yang kemudian dapat menjawab misteri ini.

Mereka menemukan hasil positif terapi pengurangan waktu tidur ini sebesar 50% dari total pasien, terlepas dari umur, gender, kondisi penyakit penyerta, atau tipe obat yang digunakan oleh pasien. Selanjutnya para peneliti juga menemukan Parsial Sleeping deprivation Yakni tidur hanya selama 3 sampai 4 jam yang diikuti dengan keadaan melek/terjaga selama 20 jam ditemukan memiliki efektivitas yang sama dengan kekurangan tidur selama 36 jam.
Dr Elaine Boland, pimpinan penulis artikel yang dipublikasi pada The Journal of clinical psychiatry menyampaikan bahwa hasil analisa penelitian ini menunjukkan gangguan tidur atau kekurangan tidur efektif pada hampir semua populasi dalam mengobati depresi. Terlepas dari bagaimana teknik/cara pengurangan waktu tidur pada pasien atau tipe depresi yang terjadi pada pasien, Dr Elaine Boland secara keseluruhan menyatakan bahwa respon terapi ini adalah sama.
Profesor Alice Gregory yakni Profesor psikologi gangguan tidur yang mengajar di Goldsmith University of London menjelaskan bahwa hubungan antara tidur dan depresi ini sesungguhnya sangat jelas dalam ilmu psikiatri. Mereka yang mengalami depresi sering mengalami hypersomnia yakni rasa kantuk yang amat besar atau justru sebaliknya mengalami insomnia. Hubungan kompleks ini telah ditelusuri oleh para peneliti yang berusa menemukan jawaban Apakah memanipulasi tidur dapat memberikan konsekuensi positif pada penyakit depresi. Terapi kognitif perilaku ditujukan untuk memperbaiki insomnia ternyata dapat menurunkan gejala depresi Pada kurun waktu tertentu.
Profesor Alice juga memberi komentar mengenai Meta-analisis yang mengejutkan tersebut sesungguhnya memfokuskan pada teknik pengurangan waktu tidur. Ini merupakan teknik yang dikembangkan dalam waktu yang lama yang sesungguhnya tidak logis dan sangat kontras dengan terapi yang ada saat ini.  Namun meta-analysis menunjukkan bahwa pembatasan dari tidur merupakan teknik yang cepat dan sangat bermanfaat yang mampu menurunkan gejala depresi pada sebagian pasien. profesor Alice berpendapat bahwa intervensi ini dapat menjanjikan, meskipun masih belum jelas Bagaimana cara merealisasikan terapi ini.  Problem yang akan muncul dikemudian hari adalah, bagaimana ketika pasien depresi ingin untuk tidur normal? Bukankah keuntungan dari terapi pengurangan tidur ini akan menghilang? itulah permasalahan yang masih perlu dibahas oleh para peneliti.
Jadi untuk sementara pengurangan waktu tidur mungkin belum dapat digunakan sebagai terapi dalam gangguan depresi, karena Teknik ini mungkin perlu dikembangkan dalam menurunkan gejala depresi untuk jangka waktu yang panjang. Dalam meta-analisis, penulis juga telah memberikan catatan bahwa penelitian lebih lanjut untuk mengungkap mekanisme kurang tidur dalam memperbaiki mood. apakah itu melalui pengaturan ulang jam biologis tubuh?  atau Uraian dari neurotransmitter yang dapat membantu kita untuk mengembangkan terapi ini di masa depan.  kita masih belum mengetahuinya,  namun Meta-analisis Ini merupakan satu batu loncatan yang sangat penting bagi para peneliti untuk mengembangkan ilmu ke tahap selanjutnya.


Potensi kurang tidur dalam megobati depresi

Meskipun  tidak lazim, namun hasil penelitian mengungkap bahwa kekurangan waktu tidur ternyata dapat menangkal gejala depresi


Riset kesehatan dasar tahun 2013 menemukan bahwa 14 juta orang di Indonesia mengalami gangguan psikologis berupa depresi. Hingga saat ini, terapi Konseling dan obat antidepresan merupakan pengobatan yang paling umum digunakan, namun efek positif kedua terapi tersebut umumnya terjadi dalam jangka waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Hasil Meta-analisis yang dilakukan oleh Universitas Pennsylvania justru memunculkan potensi terapi baru, yakni pengurangan waktu tidur dengan pengawasan medis dapat mengurangi gejala depresi sekurang-kurangnya dalam waktu 24 jam.

Dalam kondisi tertentu, kurang tidur ternyata memiliki efek antidepresan yang potensial, namun seberapa efektif dan bagaimana terapi ini dapat bekerja masih menjadi misteri hingga saat ini. Untuk menginvestigasi lebih lanjut,  para peneliti mengumpulkan sejumlah 2000 penelitian selama 36 tahun terakhir, dan ditemukanlah 66 penelitian yang kemudian dapat menjawab misteri ini.

Mereka menemukan hasil positif terapi pengurangan waktu tidur ini sebesar 50% dari total pasien, terlepas dari umur, gender, kondisi penyakit penyerta, atau tipe obat yang digunakan oleh pasien. Selanjutnya para peneliti juga menemukan Parsial Sleeping deprivation Yakni tidur hanya selama 3 sampai 4 jam yang diikuti dengan keadaan melek/terjaga selama 20 jam ditemukan memiliki efektivitas yang sama dengan kekurangan tidur selama 36 jam.
Dr Elaine Boland, pimpinan penulis artikel yang dipublikasi pada The Journal of clinical psychiatry menyampaikan bahwa hasil analisa penelitian ini menunjukkan gangguan tidur atau kekurangan tidur efektif pada hampir semua populasi dalam mengobati depresi. Terlepas dari bagaimana teknik/cara pengurangan waktu tidur pada pasien atau tipe depresi yang terjadi pada pasien, Dr Elaine Boland secara keseluruhan menyatakan bahwa respon terapi ini adalah sama.
Profesor Alice Gregory yakni Profesor psikologi gangguan tidur yang mengajar di Goldsmith University of London menjelaskan bahwa hubungan antara tidur dan depresi ini sesungguhnya sangat jelas dalam ilmu psikiatri. Mereka yang mengalami depresi sering mengalami hypersomnia yakni rasa kantuk yang amat besar atau justru sebaliknya mengalami insomnia. Hubungan kompleks ini telah ditelusuri oleh para peneliti yang berusa menemukan jawaban Apakah memanipulasi tidur dapat memberikan konsekuensi positif pada penyakit depresi. Terapi kognitif perilaku ditujukan untuk memperbaiki insomnia ternyata dapat menurunkan gejala depresi Pada kurun waktu tertentu.
Profesor Alice juga memberi komentar mengenai Meta-analisis yang mengejutkan tersebut sesungguhnya memfokuskan pada teknik pengurangan waktu tidur. Ini merupakan teknik yang dikembangkan dalam waktu yang lama yang sesungguhnya tidak logis dan sangat kontras dengan terapi yang ada saat ini.  Namun meta-analysis menunjukkan bahwa pembatasan dari tidur merupakan teknik yang cepat dan sangat bermanfaat yang mampu menurunkan gejala depresi pada sebagian pasien. profesor Alice berpendapat bahwa intervensi ini dapat menjanjikan, meskipun masih belum jelas Bagaimana cara merealisasikan terapi ini.  Problem yang akan muncul dikemudian hari adalah, bagaimana ketika pasien depresi ingin untuk tidur normal? Bukankah keuntungan dari terapi pengurangan tidur ini akan menghilang? itulah permasalahan yang masih perlu dibahas oleh para peneliti.
Jadi untuk sementara pengurangan waktu tidur mungkin belum dapat digunakan sebagai terapi dalam gangguan depresi, karena Teknik ini mungkin perlu dikembangkan dalam menurunkan gejala depresi untuk jangka waktu yang panjang. Dalam meta-analisis, penulis juga telah memberikan catatan bahwa penelitian lebih lanjut untuk mengungkap mekanisme kurang tidur dalam memperbaiki mood. apakah itu melalui pengaturan ulang jam biologis tubuh?  atau Uraian dari neurotransmitter yang dapat membantu kita untuk mengembangkan terapi ini di masa depan.  kita masih belum mengetahuinya,  namun Meta-analisis Ini merupakan satu batu loncatan yang sangat penting bagi para peneliti untuk mengembangkan ilmu ke tahap selanjutnya.


No comments:

Post a Comment