Penyakit jantung adalah salah satu penyebab kematian paling tinggi di dunia. Para Ilmuan bersama Google rupanya telah berhasil menemukan teknologi untuk memprediksi dan mendiagnosis serangan jantung se-awal mungkin sehingga dapat membantu dalam pengobatan, mengurangi biaya kesehatan dan mengurangi kematian yang disebabkan oleh penyakit ini.


Penyakit jantung koroner adalah  penyakit pada pembuluh darah arteri koroner pada jantung karena terjadinya penyempitan dan penyumbatan pada pembuluh darah tersebut. Gejala penyakit jantung koroner adalah rasa nyeri yang tidak bertambah parah saat menarik napas, yang biasanya terasa di tengah dada, bisa menyebar kesisi kiri, kedua lengan, atau ke leher dan rahang, serta dada terasa seperti sesak, terbakar, tertusuk-tusuk, atau tertekan. Survei pada tahun 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit Jantung Koroner menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9%.

Menghadapi permasalahan tersebut para ilmuwan rupanya telah menemukan cara baru untuk menilai risiko seseorang terkena penyakit jantung dengan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Uniknya teknologi ini mampu menyimpulkan dengan akurat hanya dengan menganalisis pemindaian bagian belakang mata pasien. Beberapa data yang dapat dinilai dari alat ini termasuk usia seseorang, tekanan darah, dan apakah mereka merokok atau tidak. Seluruh data tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi risiko mereka menderita penyakit jantung dengan akurasi yang sangat baik.
Penemuan ini berpotensi mempermudah dan mempercepat para dokter untuk menganalisis risiko kardiovaskular pasien, karena tidak memerlukan tes darah. Namun, metode ini perlu diuji lebih teliti sebelum dapat digunakan dalam pengaturan klinis, seperti yang diungkapkan oleh peneliti dalam jurnal Nature Biomedical Engineering pada bulan September 2017.

teknologi yang diciptakan oleh Ilmuan dari Google ini dapat memprediksi lebih cepat tentang risiko kardiovaskular, seperti yang diungkapkan oleh Luke Oakden-Rayner, seorang peneliti medis di University of Adelaide. "Mereka mengambil data yang telah diambil untuk satu alasan klinis dan mendapatkan lebih banyak daripada yang saat ini kami lakukan," kata Oakden-Rayner. "Daripada mengganti dokter, itu mencoba memperluas apa yang sebenarnya bisa kita lakukan."

Untuk
mengerjakan dan menguji teknologi tersebut, Google dan ilmuwan Verily menggunakan AI untuk menganalisis kumpulan data medis dari hampir 300.000 pasien. Informasi ini termasuk scan mata serta data medis umum. Seperti semua analisis pembelajaran mendalam, jaringan saraf kemudian digunakan untuk mengumpulkan informasi ini, dan mengaitkan tanda-tanda dalam hasil pemindaian mata yang diperlukan untuk memprediksi risiko kardiovaskular (misalnya, usia dan tekanan darah).

Meskipun gagasan untuk melihat mata Anda untuk menilai kesehatan jantung Anda terdengar tidak biasa,
namun terdapat kaitan yang erat antara kesehatan jantung dan mata anda. Dinding bagian dalam belakang mata (fundus) penuh dengan pembuluh darah yang mencerminkan kesehatan keseluruhan tubuh. Dengan mempelajari penampilan mereka dengan kamera dan mikroskop, dokter dapat menyimpulkan hal-hal seperti tekanan darah seseorang, usia, dan apakah mereka merokok atau tidak, yang merupakan prediktor penting dari kesehatan kardiovaskular.
Teknologi mampu meramal seseorang dengan keakuratan 70% ketika disajikan dengan gambar retina pasien. Nilai tersebut memang lebih kecil daripada metode SCORE yang umum digunakan dalam memprediksi risiko kardiovaskular, yang memerlukan tes darah dengan nilai ketepatan prediksi sebesar 72%.

Alun Hughes, profesor Fisiologi dan Farmakologi Kardiovaskular di UCL London, mengatakan pendekatan
teknologi ciptaan Google ini terdengar kredibel karena "sejarah panjang melihat retina untuk memprediksi risiko kardiovaskular." Dia menambahkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi untuk mempercepat bentuk-bentuk medis yang ada. analisis, tetapi memperingatkan bahwa algoritma perlu diuji lebih lanjut sebelum dapat dipercaya.

Bagi Google, karya ini mewakili lebih dari sekadar metode baru menilai risiko kardiovaskular. Ini menunjukkan jalan menuju paradigma baru yang didukung AI untuk penemuan ilmiah. Meskipun sebagian besar algoritme medis dibuat untuk mereplikasi alat diagnostik yang ada (seperti mengidentifikasi kanker kulit, misalnya), algoritme ini menemukan cara baru untuk menganalisis data medis yang ada. Dengan data yang cukup, diharapkan kecerdasan buatan dapat menciptakan wawasan medis yang sepenuhnya baru tanpa arah manusia.

Dengan penemuan ini dapat kita bayangkan dimasadepan, dimana suatu hari nanti sebuah mesin dengan kecerdasan buatan mampu mediagnosis penyakit kita seperti seorang dokter. 

Ramalkan kapan anda terkena serangan jantung koroner


Penyakit jantung adalah salah satu penyebab kematian paling tinggi di dunia. Para Ilmuan bersama Google rupanya telah berhasil menemukan teknologi untuk memprediksi dan mendiagnosis serangan jantung se-awal mungkin sehingga dapat membantu dalam pengobatan, mengurangi biaya kesehatan dan mengurangi kematian yang disebabkan oleh penyakit ini.


Penyakit jantung koroner adalah  penyakit pada pembuluh darah arteri koroner pada jantung karena terjadinya penyempitan dan penyumbatan pada pembuluh darah tersebut. Gejala penyakit jantung koroner adalah rasa nyeri yang tidak bertambah parah saat menarik napas, yang biasanya terasa di tengah dada, bisa menyebar kesisi kiri, kedua lengan, atau ke leher dan rahang, serta dada terasa seperti sesak, terbakar, tertusuk-tusuk, atau tertekan. Survei pada tahun 2014 di Indonesia menunjukkan, Penyakit Jantung Koroner menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12,9%.

Menghadapi permasalahan tersebut para ilmuwan rupanya telah menemukan cara baru untuk menilai risiko seseorang terkena penyakit jantung dengan menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Uniknya teknologi ini mampu menyimpulkan dengan akurat hanya dengan menganalisis pemindaian bagian belakang mata pasien. Beberapa data yang dapat dinilai dari alat ini termasuk usia seseorang, tekanan darah, dan apakah mereka merokok atau tidak. Seluruh data tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi risiko mereka menderita penyakit jantung dengan akurasi yang sangat baik.
Penemuan ini berpotensi mempermudah dan mempercepat para dokter untuk menganalisis risiko kardiovaskular pasien, karena tidak memerlukan tes darah. Namun, metode ini perlu diuji lebih teliti sebelum dapat digunakan dalam pengaturan klinis, seperti yang diungkapkan oleh peneliti dalam jurnal Nature Biomedical Engineering pada bulan September 2017.

teknologi yang diciptakan oleh Ilmuan dari Google ini dapat memprediksi lebih cepat tentang risiko kardiovaskular, seperti yang diungkapkan oleh Luke Oakden-Rayner, seorang peneliti medis di University of Adelaide. "Mereka mengambil data yang telah diambil untuk satu alasan klinis dan mendapatkan lebih banyak daripada yang saat ini kami lakukan," kata Oakden-Rayner. "Daripada mengganti dokter, itu mencoba memperluas apa yang sebenarnya bisa kita lakukan."

Untuk
mengerjakan dan menguji teknologi tersebut, Google dan ilmuwan Verily menggunakan AI untuk menganalisis kumpulan data medis dari hampir 300.000 pasien. Informasi ini termasuk scan mata serta data medis umum. Seperti semua analisis pembelajaran mendalam, jaringan saraf kemudian digunakan untuk mengumpulkan informasi ini, dan mengaitkan tanda-tanda dalam hasil pemindaian mata yang diperlukan untuk memprediksi risiko kardiovaskular (misalnya, usia dan tekanan darah).

Meskipun gagasan untuk melihat mata Anda untuk menilai kesehatan jantung Anda terdengar tidak biasa,
namun terdapat kaitan yang erat antara kesehatan jantung dan mata anda. Dinding bagian dalam belakang mata (fundus) penuh dengan pembuluh darah yang mencerminkan kesehatan keseluruhan tubuh. Dengan mempelajari penampilan mereka dengan kamera dan mikroskop, dokter dapat menyimpulkan hal-hal seperti tekanan darah seseorang, usia, dan apakah mereka merokok atau tidak, yang merupakan prediktor penting dari kesehatan kardiovaskular.
Teknologi mampu meramal seseorang dengan keakuratan 70% ketika disajikan dengan gambar retina pasien. Nilai tersebut memang lebih kecil daripada metode SCORE yang umum digunakan dalam memprediksi risiko kardiovaskular, yang memerlukan tes darah dengan nilai ketepatan prediksi sebesar 72%.

Alun Hughes, profesor Fisiologi dan Farmakologi Kardiovaskular di UCL London, mengatakan pendekatan
teknologi ciptaan Google ini terdengar kredibel karena "sejarah panjang melihat retina untuk memprediksi risiko kardiovaskular." Dia menambahkan bahwa kecerdasan buatan memiliki potensi untuk mempercepat bentuk-bentuk medis yang ada. analisis, tetapi memperingatkan bahwa algoritma perlu diuji lebih lanjut sebelum dapat dipercaya.

Bagi Google, karya ini mewakili lebih dari sekadar metode baru menilai risiko kardiovaskular. Ini menunjukkan jalan menuju paradigma baru yang didukung AI untuk penemuan ilmiah. Meskipun sebagian besar algoritme medis dibuat untuk mereplikasi alat diagnostik yang ada (seperti mengidentifikasi kanker kulit, misalnya), algoritme ini menemukan cara baru untuk menganalisis data medis yang ada. Dengan data yang cukup, diharapkan kecerdasan buatan dapat menciptakan wawasan medis yang sepenuhnya baru tanpa arah manusia.

Dengan penemuan ini dapat kita bayangkan dimasadepan, dimana suatu hari nanti sebuah mesin dengan kecerdasan buatan mampu mediagnosis penyakit kita seperti seorang dokter. 

No comments:

Post a Comment