Sehat fisik saja tidak cukup untuk menyebut diri Anda sehat. Banyak orang yang ber-fisik sehat, gemar berolahraga, namun kondisi mental mereka belumlah sehat sepenuhnya. Orang ini dapat saja secara fisik baik tanpa satu kecacatan, namun mereka tidak menikmati hidup bahkan tak mampu menghargai hidup. Beberapa pasien terjatuh dalam dilema ini selama saya berprofesi sebagai dokter. Kondisi ini disebut poor mental health. Statistik berbicara bahwa nyaris 1 dari 10 orang di dunia terjebak dalam penyakit ini. Tetapi cahaya terang mengenai pengobatan dari masalah global ini saya amati dari pengalaman di Writingthon Asian Games 2018.

Writingthon sungguh sebuah kegiatan yang membuat kita sehat paripurna. Ini berarti tidak hanya sehat secara fisik, tetapi meliputi sehat mental dan sosial.

Mari kita mulai mengupas manfaat kesehatan fisik dari writingthon. Kegiatan ini melatih daya adaptasi diri secara fisik. Para finalis datang dari Sabang sampai Merauke dengan kondisi cuaca, kelembaban, suhu dan berbagai faktor fisik lain yang berbeda dengan di Jakarta. Apalagi dengan tantangan menulis dalam satu malam yang membuat ketegangan para peserta memuncak, memperkuat denyut jantung, mengaktifkan sel saraf yang tertidur, hingga mengasah panca indra peserta dalam menangkap momen asian games menjadi sebuah tulisan.

Setelah tubuh fisik berhasil melewati proses adaptasi, kini giliran mental mendapat manfaat dari Writingthon. Berhadapan dengan tempat baru, teman baru, dan pengalaman baru, sungguh penyegaran baik bagi mental manusia. Dengan penyegaran tersebut, maka seorang akan lebih menikmati hidup mereka. Proses ini disebut sebagai mindful-based, yakni situasi secara sadar dalam merasakan ketiga hal baru tersebut (tempat, teman, pengalaman). Dalam sebuah Penelitian di Belanda, kegiatan semacam ini sungguh memperbaiki kesehatan mental seseorang, mampu membuat seorang menikmati kehidupan secara sadar dan menghargai orang disekitar mereka.



Kesehatan sosial turut menyempurnakan manfaat fisik dan mental berkat acara Writingthon ini. Bertukar pengalaman selama proses karantina berlangsung, rupanya memberi kami kesempatan untuk belajar dalam menerima keadaan diri. Banyak dari finalis menceritkan apa adanya dari setiap kekonyolan hingga ketegangan dalam perjalanan writingthon berlangsung. Para finalis juga belajar dalam memberi kesempatan yang sama dalam bercerita, karena setiap pengalaman di nusantara amatlah bernilai untuk kami dengarkan. Dengan belajar menerima keadaan diri dan memberi kesempatan yang sama, tentu semakin memudahkan kami dalam bergaul dan mengenal indahnya keberagaman nusantara. Apalagi berbagai kisah yang menghibur, sukses membuat para finalis dan peserta tertawa lepas dimalam penuh suka cita tersebut.

Ternyata inilah kekuatan magis dari Writingthon Asian Games 2018 dalam mengobati masalah kesehatan global: poor mental health. Keberagaman kami adalah kekuatan yang berhasil memberi kesehatan fisik, mental bahkan kesehatan sosal. Kitalah Indonesia, yang kini menjadi Energy of Asia dalam Asian games 2018.
Semoga tulisan ini bermanfaat!

Writingthon Asian Games 2018 dan Cahaya Pengobatan Global



Sehat fisik saja tidak cukup untuk menyebut diri Anda sehat. Banyak orang yang ber-fisik sehat, gemar berolahraga, namun kondisi mental mereka belumlah sehat sepenuhnya. Orang ini dapat saja secara fisik baik tanpa satu kecacatan, namun mereka tidak menikmati hidup bahkan tak mampu menghargai hidup. Beberapa pasien terjatuh dalam dilema ini selama saya berprofesi sebagai dokter. Kondisi ini disebut poor mental health. Statistik berbicara bahwa nyaris 1 dari 10 orang di dunia terjebak dalam penyakit ini. Tetapi cahaya terang mengenai pengobatan dari masalah global ini saya amati dari pengalaman di Writingthon Asian Games 2018.

Writingthon sungguh sebuah kegiatan yang membuat kita sehat paripurna. Ini berarti tidak hanya sehat secara fisik, tetapi meliputi sehat mental dan sosial.

Mari kita mulai mengupas manfaat kesehatan fisik dari writingthon. Kegiatan ini melatih daya adaptasi diri secara fisik. Para finalis datang dari Sabang sampai Merauke dengan kondisi cuaca, kelembaban, suhu dan berbagai faktor fisik lain yang berbeda dengan di Jakarta. Apalagi dengan tantangan menulis dalam satu malam yang membuat ketegangan para peserta memuncak, memperkuat denyut jantung, mengaktifkan sel saraf yang tertidur, hingga mengasah panca indra peserta dalam menangkap momen asian games menjadi sebuah tulisan.

Setelah tubuh fisik berhasil melewati proses adaptasi, kini giliran mental mendapat manfaat dari Writingthon. Berhadapan dengan tempat baru, teman baru, dan pengalaman baru, sungguh penyegaran baik bagi mental manusia. Dengan penyegaran tersebut, maka seorang akan lebih menikmati hidup mereka. Proses ini disebut sebagai mindful-based, yakni situasi secara sadar dalam merasakan ketiga hal baru tersebut (tempat, teman, pengalaman). Dalam sebuah Penelitian di Belanda, kegiatan semacam ini sungguh memperbaiki kesehatan mental seseorang, mampu membuat seorang menikmati kehidupan secara sadar dan menghargai orang disekitar mereka.



Kesehatan sosial turut menyempurnakan manfaat fisik dan mental berkat acara Writingthon ini. Bertukar pengalaman selama proses karantina berlangsung, rupanya memberi kami kesempatan untuk belajar dalam menerima keadaan diri. Banyak dari finalis menceritkan apa adanya dari setiap kekonyolan hingga ketegangan dalam perjalanan writingthon berlangsung. Para finalis juga belajar dalam memberi kesempatan yang sama dalam bercerita, karena setiap pengalaman di nusantara amatlah bernilai untuk kami dengarkan. Dengan belajar menerima keadaan diri dan memberi kesempatan yang sama, tentu semakin memudahkan kami dalam bergaul dan mengenal indahnya keberagaman nusantara. Apalagi berbagai kisah yang menghibur, sukses membuat para finalis dan peserta tertawa lepas dimalam penuh suka cita tersebut.

Ternyata inilah kekuatan magis dari Writingthon Asian Games 2018 dalam mengobati masalah kesehatan global: poor mental health. Keberagaman kami adalah kekuatan yang berhasil memberi kesehatan fisik, mental bahkan kesehatan sosal. Kitalah Indonesia, yang kini menjadi Energy of Asia dalam Asian games 2018.
Semoga tulisan ini bermanfaat!

No comments:

Post a Comment