Skip to main content

Brain Enigma - Kode Perang yang Mengungkap Rahasia Otak


Selama Perang Dunia II, cryptographers memecahkan kode Enigma Jerman dengan mengeksploitasi pola bahasa yang dikenal dalam pesan terenkripsi.

Menggunakan frekuensi, huruf dan kata-kata tertentu membantu ilmuwan komputer Inggris Alan Turing dan rekan-rekannya menemukan kunci untuk menerjemahkan sinyal mesin ke bahasa sederhana, seperti pada film box office The Imitation Game.
Terinspirasi dari kegiatan tersebut, para peneliti neurosains menggunakan ilmu dari dunia kriptografi untuk menemukan misteri sinyal otak ketika kita menggerakkan tubuh.

Banyak gerakan manusia, seperti berjalan atau menggenggam, mengikuti gerakan tertentu rupanya memiliki kombinasi sinyal saraf yang rumit untuk dipecahkan.
Dengan pemikiran ini, Eva Dyer, seorang ahli saraf di Georgia Institute of Technology dan Emory University, mengembangkan strategi yang terinspirasi oleh kriptografi ini dalam mengungkap system kerja otak.
Dia dan rekan-rekannya mempublikasikan hasil mereka pada Desember lalu di bidang Teknik Biomedis Alam.
“Saya pernah mendengar tentang pendekatan ini sebelumnya, tetapi ini adalah salah satu studi pertama yang diterbitkan dan dipublikasikan,” kata Nicholas Hatsopoulos, ahli saraf di Universitas Chicago, yang mendukung proyek ini.
Menyandingkan komputer dengan otak, seperti mengontrol tangan buatan, biasanya menggunakan algoritme yang disebut supervised decoder.
Algoritme ini bergantung pada perekaman simultan dari kedua aktivitas saraf dan detail gerakan, termasuk posisi dan kecepatan gerakan, yang memerlukan waktu dan proses melelahkan.

Informasi ini kemudian digunakan untuk melatih decoder untuk menerjemahkan pola-pola saraf ke dalam gerakan-gerakannya yang bersesuaian.
Dalam istilah kriptografi, ini akan seperti membandingkan sejumlah pesan yang sudah didekripsi dengan versi terenkripsi untuk merekayasa balik kunci tersebut.
Sebaliknya, tim Dyer berusaha memprediksi gerakan hanya menggunakan "pesan terenkripsi" (aktivitas saraf) dan pemahaman umum tentang pola yang muncul dalam gerakan tertentu.
Para ilmuwan melatih tiga kera untuk menggunakan gerakan lengan atau pergelangan tangan untuk memandu kursor ke sejumlah target di layar.
Pada saat yang sama, elektroda yang ditanamkan merekam sinyal dari sekitar 100 neuron di setiap korteks motor monyet tersebut. Bagian otak inilah yang mengontrol gerakan mamalia.
Para peneliti kemudian menguji model komputasional untuk menemukan salah satu pola terbaik yang dipetakan dalam aktivitas saraf ke pola yang telah mereka lihat dalam gerakan hewan.
Ketika para peneliti menggunakan model terbaik mereka untuk memecahkan kode aktivitas saraf dari uji coba sebelumnya, dekorder mereka dapat memprediksi gerakan kera pada uji coba lanjutan.

"Ini hasil yang sangat keren," kata Jonathan Kao, seorang ahli syaraf komputasi di Universitas California, Los Angeles, yang turut mengapresiasi penelitian ini.
Dyer menyebut karyanya sebagai bukti dan catatan bahwa lebih banyak yang harus dilakukan sebelum teknik itu dapat digunakan secara luas. "Dibandingkan dengan decoder standar, ini belum sempurna," katanya. "penemuan kami ini hanyalah permulaan."
Semoga penemuan ini menjadi inspirasi dalam menciptakan tangan atau kaki robot, bahkan organ buatan lain pada manusia dengan disabilitas.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mulai menulis - terimakasih untuk orangtua saya, karena hari ini saya sudah 20 tahun bersama kasih sayang kalian

Tanggal 12 maret 2013 kemarin adalah hari ulang tahun saya yang ke 20 tahun. Sebuah hari yang sangat spesial bagi saya, karena kebetulan bertepatan dengan hari raya nyepi. Sebuah hari raya yang sangat saya sukai. Sebuah hari kelahiran yang sangat saya syukuri.
Saya menyukai hari raya nyepi karena ini satu-satunya hari raya yang tidak di rayakan. Tidak membuang energi untuk melakukan sesuatu hal, hanya cukup berdiam diri di dalam rumah. Tanpa lampu, tanpa beraktifitas, tanpa berinteraksi dengan tetangga, tanpa keluar rumah, dan tanpa menggunakan gadget (meskipun saya menggunakan untuk berterimakasih membalas ucapan selamat ulang tahun teman dan saudara saya). lalu apa yang kita lakukan dong? Hanya diam meng-sepi-kan lingkungan sesuai nama harinya, nyepi. Hal yang saya sukai dengan hari raya nyepi karena di hari ini kita dapat berterimakasih dengan tubuh kita yang sudah bekerja dengan penuh perjuangan selama 1 tahun dengan mengistirahatkan tubuh selama 1 hari penuh (hari raya nyepi dil…

#BukaInspirasi untuk 90 Hari Pertama UKM Anda

Keputusan yang Anda buat di awal bisnis (Usaha Kecil Menengah/UKM) berdampak pada laba dan rugi, bahagia dan sakit hati, kesuskesan dan kegagalan. Dalam artikel kali ini, saya merangkum apa yang Anda butuhkan untuk memulai dengan benar, termasuk rencana untuk 90 hari pertama memulai bisnis. Ada pula saran dari pengalaman nyata beberapa rekan pengusaha sukses yang saya kenal. Dilengkapi pula dengan checklist tindakan untuk menghemat uang Anda dimasa depan, dan jawaban atas rahasia keberhasilan dari sebuah bisnis. Saya tidak sabar untuk melihat apa yang Anda buat setelah membaca artikel ini. Mimpimu telah berakhir. Memulai bisnis dimulai hari ini September, artinya mendekati tahun 2019. Anda pasti telah lama membayangkan produk ciptaan Anda terjual di supermarket dan mencoba menjelaskan pada pemilik supermarket mengenai keunggulan kompetitif dari produk tersebut. Anggaplah tahun ini anda bertekad meluncurkan bisnis tersebut. Pasti anda mulai bingung harus mulainya dari mana bukan? Beriku…

Terapi Khusus dari ASUS

“ini dokter, saya sering sekali merasakan perih pada mata setelah main laptop” keluhan seorang pasien pagi ini, dengan matanya yang merah dan berair. Bekerja di puskesmas di Bali membuat saya kerap kali putar otak untuk mengobati keluhan di atas. Kami menyebutnya penyakit millennial. Penyakit akibat kemajuan teknologi ini semakin banyak terjadi, mulai dari keluhan pada mata, nyeri leher, hingga kekakuan pada jari. Kebetulan sebagian besar usia pasien dengan penyakit ini adalah kaum muda atau millennial yang telah akrab dengan teknologi sedari lahir. Namun sesungguhnya teknologi dapat memberi manfaat seperti yang saya lakukan dengan Laptop ASUS WX232D saya.
Kami menyebutnya sebagai Terapi ASUS. Nama ini terlahir dari laptop ASUS yang mempermudah terapi edukasi pada pasien tanpa batasan usia. Pada pasien tua ini menjadi daya tarik karena penyakit dapat dijelaskan lewat gambar dan animasi. Semakin menarik pada pasien anak-anak karena daya ingin tau yang membuat mereka betah menonton penjel…