Skip to main content

Terapi Khusus dari ASUS


“ini dokter, saya sering sekali merasakan perih pada mata setelah main laptop” keluhan seorang pasien pagi ini, dengan matanya yang merah dan berair.
Bekerja di puskesmas di Bali membuat saya kerap kali putar otak untuk mengobati keluhan di atas. Kami menyebutnya penyakit millennial. Penyakit akibat kemajuan teknologi ini semakin banyak terjadi, mulai dari keluhan pada mata, nyeri leher, hingga kekakuan pada jari. Kebetulan sebagian besar usia pasien dengan penyakit ini adalah kaum muda atau millennial yang telah akrab dengan teknologi sedari lahir. Namun sesungguhnya teknologi dapat memberi manfaat seperti yang saya lakukan dengan Laptop ASUS WX232D saya.

Kami menyebutnya sebagai Terapi ASUS. Nama ini terlahir dari laptop ASUS yang mempermudah  terapi edukasi pada pasien tanpa batasan usia. Pada pasien tua ini menjadi daya tarik karena penyakit dapat dijelaskan lewat gambar dan animasi. Semakin menarik pada pasien anak-anak karena daya ingin tau yang membuat mereka betah menonton penjelasan saya. Nama terapi ini kerap muncul dipuncak permasalahan dalam rapat edukasi pasien. “Pakai saja terapi ASUS pak,” Ucap seorang rekan kerja saya untuk memberi solusi pada kepala Puskesmas.
Kendala ukuran dan kurang ringkasnya seri laptop ini menjadi satu-satunya masalah dalam perjalanan terapi ASUS. Terkadang posisi keyboard di depan pasien menjadi penghalang dalam terfokus untuk menatap gambar pada layar ketika penjelasan mengenai suatu penyakit saya jelaskan. Bahkan keyboard ini sering menjadi pengganggu bila saya berhadapan dengan pasien anak-anak, karena hamper mustahil menghentikan rasa ingin tau mereka dalam memencet keyboard yang menarik pada laptop ASUS. Kendala ini dapat diatasi dengan teknologi flip (dapat menjadi tablet), yaitu seri laptop ASUS yang mampu melipat layar pada mata pengguna hingga menutupi keyboard seperti pada ASUS VivoBook Flip TP410UA.

Bentuk yang tipis menyerupai tablet memberikan nilai tersendiri bagi ASUS VivoBook dari sisi kesehatan. Profesor Straker dari Curtin University of Technology, Australia mengungkap melalui penelitianya bahwa laptop dengan bentuk tablet ditemukan lebih aman dan nyaman bagi otot leher dan bahu seseorang. Penelitian yang diuji pada sejumlah anak di negara kangguru tersebut juga menemukan bahwa menggunakan tipe laptop ini hampir sama sehatnya dengan menatap kertas atau buku. Hasil penelitian ini tentu menjadi bukti yang kuat bahwa ASUS sangat menjanjikan dari sisi kesehatan dan kenyamanan.

Laptop canggih ini juga mampu mengatasi keluhan mata perih seperti kasus pasien diawal artikel. Hal tersebut karena laptop ASUS mengusung teknologi flip dan nanoedge display. Hasil penelitian dalam segi kesehatan mengungkap bahwa kedua kombinasi teknologi ini mampu mengatasi keluhan mata perih dengan mekanisme: (1) mengurangi Visual Discomfort serta Visual Fatigue yang diakibatkan Stereoscopic Displays; (2) menyediakan rentang derajat posisi mata terhadap layar yang beragam sehingga mampu mengurangi beban kelelahan pada otot mata; dan (3) Mengurangi paparan radiasi terhadap mata dengan adanya Teknologi LED backlight full hight definition. Hasil temuan yang diungkap oleh profesor dari Amerika dan Belanda tersebut semakin memantapkan pandangan tenaga medis pada keramahan ASUS VivoBook pada kesehatan mata pengguna.
Sehat terhadap otot leher dan bahu serta nyaman untuk mata adalah terapi terhebat yang pernah saya temukan dari sebuah laptop. Terapi ini hanya diberikan oleh laptop ASUS VivoBook Flip TP410UA. Dan akan menjadi lebih hebat ketika terapi ini dapat digunakan untuk memberi edukasi kesehatan pada masyarakat, seperti di Puskesmas tempat saya bekerja.

Kami memiliki impian, dimasa depan seluruh produsen teknologi dapat mengikuti jejak ASUS sebagai pelopor laptop yang ramah kesehatan. Akhirnya, semoga terapi ini terlaksana di seluruh Nusantara, untuk mempercepat proses edukasi kesehatan pada masyarakat, tentunya dengan ASUS VivoBook Flip TP410UA.

Pelajari lebih lanjut:
  1. Marc Lambooij and Wijnand IJsselsteijn. Visual Discomfort and Visual Fatigue of Stereoscopic Displays: A Review. Journal of Imaging Science and Technology® 53(3): 030201–030201-14, 2009.
  2. Carolyn M. Sommerich and Sharon M. B. Joines. Effects of Computer Monitor Viewing Angle and Related Factors on Strain, Performance, and Preference Outcomes. HUMAN FACTORS, Vol. 43, No. 1, Spring 2001, pp. 39–55.
  3. Agarwal S, Goel D, Sharma A. Evaluation of the Factors which Contribute to the Ocular Complaints in Computer Users. Journal of Clinical and Diagnostic Research : JCDR. 2013;7(2):331-335. doi:10.7860/JCDR/2013/5150.2760.



ASUS Laptopku Blogging Competition by uniekkaswarganti.com

Comments

  1. Wow, unik banget mas angle-nya. Baru ini nih ada artikel yang ngebahas laptop ASUS dari sudut kesehatan. Btw mungkin ditambahin juga klo ASUS dah punya Eye Care Technology buat semua layarnya jadi nggak cape lagi liat layar lama-lama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih atas tambahan infonya ya. Artikel selanjutnya saya bahas tentang ECT dari ASUS 😁

      Delete
  2. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam ASUS Laptopku Blogging Competition. Good luck.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak, semoga bermanfaat πŸ™

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mulai menulis - terimakasih untuk orangtua saya, karena hari ini saya sudah 20 tahun bersama kasih sayang kalian

Tanggal 12 maret 2013 kemarin adalah hari ulang tahun saya yang ke 20 tahun. Sebuah hari yang sangat spesial bagi saya, karena kebetulan bertepatan dengan hari raya nyepi. Sebuah hari raya yang sangat saya sukai. Sebuah hari kelahiran yang sangat saya syukuri.
Saya menyukai hari raya nyepi karena ini satu-satunya hari raya yang tidak di rayakan. Tidak membuang energi untuk melakukan sesuatu hal, hanya cukup berdiam diri di dalam rumah. Tanpa lampu, tanpa beraktifitas, tanpa berinteraksi dengan tetangga, tanpa keluar rumah, dan tanpa menggunakan gadget (meskipun saya menggunakan untuk berterimakasih membalas ucapan selamat ulang tahun teman dan saudara saya). lalu apa yang kita lakukan dong? Hanya diam meng-sepi-kan lingkungan sesuai nama harinya, nyepi. Hal yang saya sukai dengan hari raya nyepi karena di hari ini kita dapat berterimakasih dengan tubuh kita yang sudah bekerja dengan penuh perjuangan selama 1 tahun dengan mengistirahatkan tubuh selama 1 hari penuh (hari raya nyepi dil…

Brain Enigma - Kode Perang yang Mengungkap Rahasia Otak

Selama Perang Dunia II, cryptographers memecahkan kode Enigma Jerman dengan mengeksploitasi pola bahasa yang dikenal dalam pesan terenkripsi.
Menggunakan frekuensi, huruf dan kata-kata tertentu membantu ilmuwan komputer Inggris Alan Turing dan rekan-rekannya menemukan kunci untuk menerjemahkan sinyal mesin ke bahasa sederhana, seperti pada film box office The Imitation Game. Terinspirasi dari kegiatan tersebut, para peneliti neurosains menggunakan ilmu dari dunia kriptografi untuk menemukan misteri sinyal otak ketika kita menggerakkan tubuh.
Banyak gerakan manusia, seperti berjalan atau menggenggam, mengikuti gerakan tertentu rupanya memiliki kombinasi sinyal saraf yang rumit untuk dipecahkan. Dengan pemikiran ini, Eva Dyer, seorang ahli saraf di Georgia Institute of Technology dan Emory University, mengembangkan strategi yang terinspirasi oleh kriptografi ini dalam mengungkap system kerja otak. Dia dan rekan-rekannya mempublikasikan hasil mereka pada Desember lalu di bidang Teknik Biomedi…